RabuRiset: Di Balik Quick Count Pilkada

Riuh pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah selalu diikuti dengan quick count dari berbagai lembaga survey politik atau divisi riset media massa. Tapi hasil quick count ini berbeda-beda meski bisa jadi perbedaan angka tidak sampai 5%.


Dalam Pilkada DKI putaran 1 kemarin, setidaknya ada 7 lembaga survei politik yang memublikasikan hasil survei mereka (Republika Online). Quick count dari lembaga survei ini memiliki hasil yang beragam. Kenapa hasil quick count bisa beragam? Yuk kita ulik perjalanan data untuk menghasilkan angka quick count.

Continue reading

Newborn Essentials – 5 Hal yang Harus Dipikirkan Sebelum Belanja Kebutuhan Bayi

Untuk para perempuan hamil, hal yang paling ditunggu-tunggu selain dari hari lahir si buah hati, adalah berbelanja kebutuhan bayi. Termasuk saya pas lagi hamil baby plum setahun lalu. Selain dari hobi belanja, beli ina-ini-itu untuk si jabang bayi rasanya lebih guilt-free dibanding belanja untuk diri sendiri.

Saya pertama kali membeli barang kebutuhan bayi ketika kandungan masih usia 6 bulan. Beberapa kan bilang pamali ya kalo belanja sebelum 7 bulan, tapi hasrat untuk membeli sudah tak terbendung. Jadilah saat ibu saya ke Jakarta, saya sekalian ajak jalan ke ITC Kuningan. Terus pas nyampe saya bingung sendiri meski dibantu shopping list dari toko yang saya kunjungi. Belanja untuk bayi ini jarang banget yang sekali beli langsung selesai. Jadi biasanya belanja ini akan disambung beberapa kali. Jika ditotal, belanja kebutuhan bayi ini saya lakukan 4 kali, and other 4 or 5 times occasion saat bayi sudah lahir.

Sekarang baby plum sudah 9 bulan, dan saya sudah dua kali membereskan lemari pakaian dia. Babies surely grow so fast. Ada beberapa hal yang pada akhirnya menumpuk tak terpakai setelah tiga bulan, dan ada yang membuat saya harus bolak-balik ke baby shop. Nah, untuk mencegah hal yang sama terjadi bagi buibu lain dan pengingat untuk saya sendiri. Ini dia hal-hal yang harus dipikirkan (dan diputuskan) dalam membeli kebutuhan bayi.

  1. Shopping List is a Must

Ini sih sebetulnya udah jadi persiapan wajib yang kudu mesti harus dibawa saat belanja kebutuhan bayi, tujuannya ada dua; biar ngga kalap dan biar ngga ada yang kelewat. Shopping list ini bertebaran kok di jagad maya and one day I will also share mine. Selain itu, biasanya kalo kita belanja di toko kebutuhan bayi mereka juga siap sedia kok dengan shopping list.

Shopping list ini tentunya beda di jumlah dan item yang dibeli. Ngga semua beli kain bedong 2 lusin atau beli newborn clothes 3 stel. Penyesuaian shopping list ini berdasarkan keputusan dan kebutuhan ibu dan ayah si bayi, nantinya bayi mau pake apa.

2. Define your little one clothing style

Maksudnya disini adalah buibu dan pakbapak nanti mau anaknya mau dipakein baju apa dan model bagaimana. Berhubung mereka masih dalam fase newborn dan belum bisa milih mau pake baju apa, so it’s your chance untuk mendandani si anak sesuka hati.

Dari pengamatan saya, ada orang tua yang memakaikan anaknya singlet+celana pop as undies, atau orang tua yang menganggap bahwa singlet itu ngga penting dan undies sudah digantikan fungsinya oleh pospak atau clodi. Jadi dari daleman aja sudah bisa diputuskan yah buibu & pakbapak mau pake singlet dan/atau celana pop atau ngga.

Setelah urusan daleman selesai, selanjutnya yang penting dipikirkan adalah baju bayi apa yang mau dipakai. Apakah setelan baju bayi seperti Velvet, Libby atau merek lain, atau sudah mau distyling dengan kaos, atau rok, atau celana joger dan legging? Sampai usia 3 bulanan sehari-hari babyplum pake setelan baju bayi yang mana setelan wajibnya adalah baju bayi celana pendek lengan pendek karena Jakarta panas. Attire buat di Puncak karena cuaca dingin setelan baju bayi panjang, jaket, topi dan kaos kaki udah paling juara.

Gaya baju bayi yang dipilih ngga sebatas itu, tapi juga model. Mau sleepsuit dengan kaki tangan tertutup atau ngga? Atau malah ngga mau pake sleepsuit sama sekali?

Buat buibu yang ngga suka bolak-balik ke toko kebutuhan bayi, boleh kalo mau stok baju sampai ukuran 6 bulan. Kenapa sampai 6 bulan aja? Supaya bisa dapet  motif baru. *Cetek emang alesannya.

3. Choose (part 1): Pospak vs Popok vs Clodi

Next, ini bagian yang cukup seru dan diwarnai perdebatan. What will your baby wear? Mau pake pospak alias popok sekali pakai yang memang jika diakumulasi biayanya cukup mahal tapi praktis, atau mau pake popok kain yang reusable, lebih murah tapi gempor buat ganti dan nyuci-jemur-setrika, atau mau pake clodi yang reusable, lebih murah dibanding pospak tapi ngga sepraktis pospak?

Semua terserah kepada buibu pakbapak ya. Tapi pilihan ini akan sangat mempengaruhi ke jumlah celana, alas ompol/bedong yang akan dibeli. Kenapa? Kalo memilih pake pospak, ngga usah beli celana banyak-banyak. Alas ompol atau bedong juga belinya secukupnya aja. Kalo memilih popok kain, jumlah celana yang dimiliki harus lebih banyak dari atasan, karena bayi bisa setengah jam sekali pipis. Kalo memilih clodi, siap – siap investasi dengan nominal lebih besar di awal.

4. Choose (part 2): Baby wipes vs kapas bulat

Buat bersihin alat kelamin bayi ada dua aliran, satu pake kapas bulat yang dibasahin air, satu lagi pake baby wipes. Menggunakan kapas bulat memang lebih hemat tapi ngga praktis. Baby wipes itu praktis banget tapi nambahin sampah. Ah udah mah saya pake pospak, pake baby wipes pulak.

Tapi apapun pilihannya ya buibu pakbapak, kalo sudah oke boleh loh medium pembersih ini distok dari awal. Kapas bulat yang lembut dan enak mereknya pigeon *tapiharganyalebihmahal. Babywipes sih banyak merek dan ujungnya cek aja yang diskon  yang mana, terus stok deh. Minimarket yang biasanya jaraknya 5 langkah doang dari rumah kalo lagi promo tisu basah bayi harganya jadi jauh lebih murah.

5. Items for pending review: Botol Dot, Toiletries, Pacifier

Ada beberapa hal yang memang harus menunggu keputusan bayi. Jika buibu pakbapak memutuskan untuk menyusui via botol dot, ada baiknya ngga stok botol dot banyak-banyak. 

Beauty Review: Kaizen Mobile Spa

Kalo lagi cape dan pegel-pegel, yang paling saya inginkan adalah dipijet. Apalagi bagian kaki yang Alhamdulillahnya selalu pegel ampir tiap malem. Paksu udah sering banget saya mintain pijet, apalagi pas saya lagi hamil. Beuh, tiap malem pasti dipijet 😁😁.

Opsi lain  yang tersedia saat ingin pijet adalah panggil mbok pijet yang mana 6 tahun saya di Jakarta belum nemu yang oke, pergi ke salon and spa buat body spa yang bisa makan waktu berjam-jam atau book jasa home-spa.

Sebelum Gojek punya layanan Go Massage, saya sudah kadung jatuh cinta sama layanan home spa. Pencarian saya bermuara di Kaizen Mobile Spa. Saya menggunakan jasa Kaizen dari 2014, pas masih ngekos di daerah Jatipadang. Nemu pun karena googling dan yang bikin yakin memilih kaizen mobile spa karena di websitenya sudah tertera no ++ service.

Continue reading

High Tension Pilkada + Sentimen Rasis = Mimpi Buruk

Disclaimer:  This is another curhat post. Semacam keresahan karena terbangun dari mimpi buruk hari ini. Very personal view. Don’t say I didn’t warn you ya.

 

Mimpi buruk membangunkan tidur saya hari ini, begitu buka mata sambil ngos-ngosan saya langsung menciumi baby F.  Saya sering mendapatkan mimpi yang vivid  dimana jalan cerita terlihat nyata dan mempengaruhi kondisi fisik ketika bangun. Tapi mimpi yang tadi sukses bikin saya resah dan agak ketakutan.

Sudah bukan berita lagi bahwa Pilkada DKI 2017 ini tensinya tinggi sekali. Masing-masing kubu bermain dengan apik kadang licik untuk mendapatkan suara. Saling serang dan menihilkan program kerja lawan jadi sebuah hal lumrah, even  saling sindir di panggung debat terbuka pun dilakukan pasangan calon. Saya ngga tahu debat politik yang bener itu kayak gimana, tapi kok ya saya ngga suka liat sindir-sindiran begitu. Terlalu receh dan remeh aja gitu. Semoga di ronde kedua nanti bisa lebih bijak ya penyampaian kampanye tanpa sindir menyindir. Amin.

Hal lain yang juga bikin saya meringis adalah bagaimana sentimen rasis jadi komoditi utama untuk menyerang kubu sebelah. (Disclaimer kedua: saya bukan suporter kubu sebelah). Sedih bacanya ketika liat banyak meme menyerang ras berlawanan. Saya ngga mau bilang keturunan cina vs pribumi ya karena dengan menggunakan bahasa tersebut seolah-olah warga keturunan cina itu bukan pribumi, padahal bisa jadi yang bersangkutan lahir gede di Indonesia, yang mana dia pribumi juga dong. Let say keturunan cina vs jawa, sunda, betawi dan ras lainnya aja supaya adil. Supaya sama-sama nama suku.

Si meme yang menyalahkan dan menakut-nakuti bahwa warga keturunan cina akan meraja dan memperbudak warga dari ras lainnya sepertinya berperan dalam trigger mimpi saya kali ini. Soalnya saya mimpi bahwa rumah saya diserang massa. Jadi ceritanya saya lagi di kamar, dan ada gerombolan orang yang menerobos masuk sambil menodongkan pistol, L dan baby F lagi di ruangan lain. Mereka bilang bahwa saya dan keluarga harus dibunuh karena kami cina. Saya yang takut sambil geram malah bales perkataan mereka dengan bahasa Sunda kasar. Heck I still remember what I said, words per words till now.

Ini adalah yang saya katakan pada mereka yang menyerang rumah “Na ari sia teu bisa neuleu? Aing cina ti beulah mana? Cik atuh mikir saeutik mah! Maehan jelema saukur ningali tina bengeut, saukur ngadenge ti batur! Naon bedana sia jeung PKI nu dihina ku sia? Ngeunah wae sia mah rek maehan batur teh. Aing, salaki jeung anak aing lahir didieu, naha dicap cina ku sia? Nu salah mah lain cina, sia nu goblok kabina-bina!” yang mana perkataan saya kemudian diterjemahkan oleh salah satu dari gerombolan massa ke bahasa Jawa. Scene selanjutnya adalah ketika baby F tetiba muncul sambil nangis dan digendong bapaknya. Liat baby F nangis kejer begitu, meski saya tahu dan sadar kalo itu mimpi tetep aja pilu yah, saya pun akhirnya memaksa diri saya sendiri untuk bangun dan ngga melanjutkan mimpi buruk tersebut.

Saya sedih banget kalo ada yang menyebarkan meme dengan sentimen rasisme atau anti cina. Bukan hanya karena saya menikah dengan warga keturunan cina. Tapi juga karena begitu  mudahnya masyarakat melempar bola api dengan sentimen negatif ras. Rasa-rasanya saya ngga perlu cerita tentang rusuh 1998 yang menimpa saudara sebangsa kita yang kebetulan beretnis cina, tapi berapa banyak warga suku lain yang sadar bahwa banyak warga etnis cina yang masih membayar harga dari kerusuhan tersebut sampai sekarang? Bukan tentang kerugian materil saja, tapi mental dan trauma yang disebabkan oleh kejadian itu.

Sekarang coba deh kalo dibalik, bagaimana jika etnis kita sendiri yang jadi korban? Bagaimana jika etnis kita yang jadi kambing hitam dan di-ridicule? Pasti pada ngga terima dan perang akan terjadi dimana-mana.

Mungkin banyak yang bilang bahwa etnis cina yang mulai duluan dengan ekslusivitas mereka, tapi apa kita lupa jika masing-masing etnis memiliki rasa ekslusivitas sendiri? Mungkin ada yang bilang bahwa perusahaan yang dimiliki oleh etnis cina rasis dan lebih menyukai warga keturunan di posisi vital. Iya sih, saya mengakui bahwa sentimen itu ada, tapi masa kita mau mencontoh yang buruk juga sih?

Saat ini, memang ada berita dimana imigran Tiongkok mulai masuk dan menjamah daerah kita. Ok, saya paham, saya juga mempertanyakan apa tindakan pemerintah untuk meredam hal tersebut,   tapi bukan berarti kita menumpahkan kekesalan pada warga etnis cina dong yah. Coba di bold dan di underline, beda banget loh antara imigran Tiongkok dan WNI etnis cina. 

Jadi yah guys, teman-teman, bapak, ibu, sodara-sodara, untuk kampanye pilkada DKI putaran kedua yuk kita hindari statemen-statemen rasis seperti ini. Jika ngga suka dengan kubu sebelah, jangan dengan sentimen rasis tentang warga keturunan cina, tapi coba dikritisi program-programnya, kinerjanya, atau caranya berkomunikasi atau apa kek gitu. I believe you all better than that!

 

Salam,

 

Ibu satu anak yang masih ngos-ngosan kalo inget mimpi buruk hari ini.

Eaten: Banana Split di Fountain Ice Cream & Restaurant Medan 

Nyicil review kuliner di Medan lagi. Kali ini saya mau bahas tentang Fountain Ice Cream & Restaurant. Dapet info soal tempat ini setelah googling tentang kuliner Medan dan penasaran pengen nyoba. Rasa-rasanya saya pernah nyobain dateng ke kedai es krim pas saya datang ke Medan tahun 2014 lalu, tapi seperti biasa saya lupa ini merek yang sama atau ngga dengan yang saya datangi.

Continue reading