Rabu Riset: The Life Stages

Dua tahun belakangan ini, setiap saya melakukan studi kualitatif ada hal menarik yang saya amati meski studi yang dilakukan adalah studi lintas industri. Hal ini juga terjadi di lingkaran kawan-kawan yang saya observasi.

Apa sih yang saya lihat? Sadar atau tidak perilaku dan value yang kita miliki sangat dipengaruhi oleh life stage. Saya yakin mereka yang pernah belajar psikologi tahu mengenai si tahapan hidup ini, pun praktisi atau akademisi di bidang pemasaran. Tapi rasanya dengan studi dan observasi yang dilakukan si teori life stage ini beneran terpampang nyata.

The behaviour and own values differences between life stages is glaringly seen. Apa yang dilihat sebagai hal yang penting di satu tahap kehidupan, mungkin menjadi hal yang kurang penting di tahap kehidupan lainnya.

Tapi apa sih life stages itu? Let me put it this way, tahap kehidupan adalah tahapan yang akan dilalui individu sesuai dengan usia dan perubahan status yang mereka miliki. Dari segi usia kita mengenal yang namanya baby – toddler – kids – teen – young adult – adult – elder. As we grows, the behavior also changes. Berbicara tentang perilaku, maka kita juga bisa cek kebiasaan pembelian barang atau jasa dari masing-masing tahap ini. Biasanya kalau di bidang kerja saya, kita bagi jadi teen, single adult, married without kids, married with kids dan elder. Kenapa ngga ada young adult? Macem dedek dedek kuliah? Biasanya sih kita masih anggap mereka sebagai teens. Karena di kacamata kita, they have no income yet even though they can be a decision maker, same with teens, no?   

On to the life stages, yuk kita bahas satu-satu mulai dari teen sampai elder. I warn you that it’s gonna be quite long read.

 

Continue reading

Anak Ahensi

Huaah, hampir seminggu saya absen buat ngeblog nih. Apa kabar one day one post? Masa terhenti di hari keempat? Hiks.

Life get in the way of ngeblog. Minggu lalu jadwal saya packed sama report. Dikejar deadline untuk subyek yang berbeda bikin sakit kepala. Guess I’m not that young anymore ya. Dulu switching dari industri A ke B rasa-rasanya gampang banget sekarang jadi ngos-ngosan.

Time management harus dirapiin lagi nih, karena pada akhirnya my work suffers. Ngga puas aja gitu ya kalo hasilnya ngga maksimal.

Continue reading

Hijab Instan, Hijab Kekinian

Pernah merhatiin ngga sih soal fesyen perkerudungan di Indonesia? Sepertinya tren  styling kerudung dimulai tahun 2000-an ya meski saat itu terbatas pada acara formal dan suka dibilang kerudung yang dililit-lilit. Styling kerudung mulai nge-heits di era Dian Pelangi dimana ke kantor atau kampus aja ngga lagi pake kerudung yang simpel tapi ada seninya. Dari yang biasanya pake peniti di bawah dagu, kemudian bergeser ke pipi. Gaya kerudung tumpuk juga populer banget dan tutorial hijab juga bertebaran di social media. Bahkan tren ini kemudian menelurkan istilah baru, HIJAB. Semacam ada identifikasi sendiri yang berkembang di masyarakat dimana pengguna hijab itu berbeda dengan pengguna jilbab atau pengguna kerudung. Hijab itu identik dengan yang gaya, dengan fesyen, baik street style atau haute couture. 

Dunia fesyen Indonesia kemudian diramaikan dengan kategori baru yang menyasar Muslim dari kelas menengah – atas. Desainer lokal yang mengkhususkan diri untuk fashion muslim bermunculan, dari mulai Dian Pelangi, Ria Miranda, sampai ada artis yang bikin muslim clothing label. Tren perhijaban ini ngga hanya muncul di tingkat kelas menengah atas dengan label harga yang bikin pusing kepala. Tapi juga untuk pengguna kerudung yang masih mengandalkan kerudung dengan harga dibawah 20ribu. Dulu yang kalo kita mau beli kerudung paling cuma bisa bilang katun atau bergo kaos, kemudian tiba-tiba jadi ada kerudung paris, ada pashmina, ada paris motif abstrak, kerudung satin, kerudung yang berglitter sampai ke ciput arab atau anti tembem. Thamrin city lantai bawah diserbu pengguna dan penjual kerudung atau hijab atau jilbab karena bisa beli kerudung dari yang 100 ribu dapat 6 sampai pashmina turki yang harganya 500ribuan.

Continue reading

Tiga Hal yang Saya Pikirkan Sebelum Menikah

Marriage is a verb, it is a never ending work. A lifetime adaptation.

Siang tadi, saat break makan siang teman saya mengutarakan kekhawatiran jika sensasi setelah menikah yang dirasakan adalah ‘meh’ feeling,  hal yang biasa diutarakan dengan “segini aja nih?”. Hal tersebut mengingatkan saya bahwa kadang, sebagai perempuan, kita terlalu fokus pada the wedding day, kadang juga kita menempatkan marriage in pedestal that will make us happy just because. Kita kadang lupa bahwa pernikahan dimulai setelah akad.

Saya pernah posting tulisan mengenai hal yang berubah setelah menikah dan ditulis 33 hari setelah kami menikah. Looking back, the first month truly is the honeymoon period jika dibandingkan dengan bulan-bulan setelahnya. Tapi saya masih percaya bahwa pernikahan merupakan adaptasi tanpa henti di usia pernikahan saya yang masih sangat muda ini.

Continue reading

Choices, Choices: Memilih Menitipkan Anak

Sepertinya isu klasik yang dihadapi oleh ibu pekerja seperti saya ketika mendekati masa cuti melahirkan selesai adalah mau lanjut kerja atau berhenti dan full di rumah? Bahkan pertanyaan ini muncul ketika masih hamil dan jabang bayi belum lahir.

Saya memilih untuk tetap bekerja, pilihan yang saya ambil bahkan sebelum menikah. Pokoknya saya ingin bekerja karena kalo di rumah saya bisa stress kena cabin fever. Soalnya saya adalah tipe orang yang jarang keluar rumah kalo ngga penting banget atau ngga pengen-pengen banget.

Continue reading