Kenapa Harus FPI? Kenapa Harus Rizieq?

When we start putting someone, anyone, in a pedestal, we stop seeing their flaws, we excuse their mistake, we see that everything (s)he do or say are true and need to be admired.

Akhir-akhir ini, setiap kali membuka laman beranda facebook, kok rasanya seperti melihat kebakaran rumah. Riuh rendah pilkada DKI, FPI, GMBI, Ahok, Rizieq membuat saya mengernyitkan kening. Belum lagi berita soal bully berujung kematian mahasiswa yang juga membuat senewen dan geleng-geleng kepala.

Tapi yang ingin saya bahas sekarang adalah kebingungan saya tentang para dewasa jadi fans militan sebuah ormas dan ketuanya. Iya, saya bicara tentang FPI dan Rizieq. Lima sampai sepuluh tahun yang lalu, banyak yang mencibir tingkah polah ormas ini. Yuk, ngacung yuk yang dulu geram dengan sweeping FPI? Yang sempat mengeluarkan sumpah serapah saat ada riot di Monas dengan massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan atau AKKBB 2008 lalu?

Continue Reading

The Playlist Series – Rollercoaster Patah Hati

Prolog

Berawal dari ngoprek email lama, saya kebetulan stumbled into this post. Dulu saya blogging di posterous dan selalu post via email jadi jejaknya masih terekam baik.

On to the post, setelah membaca ulang beberapa posting dari blog lama saya pikir ada beberapa yang bisa dipost ulang for the sake of memories dan betapa saya pernah secetek itu. Beberapa di antaranya adalah posting bertajuk Playlist ini. Jadi ceritanya ini adalah tulisan yang either terinspirasi atau mengingatkan saya pada suatu topik.

Akan ada beberapa post ulang dari blog lama dengan minimal editing dan ada juga posting baru nantinya dalam series ini. Semoga saja series yang ini lebih konsisten yak πŸ˜‚πŸ˜….

So, happy reading πŸ˜€

Continue Reading

Posting Pertama di Rumah Baru

Akhirnya setelah melewati proses pemikiran yang cukup panjang, jadi juga saya memindahkan rumah virtual saya dari domain gratisan ke domain sendiri.
Semenjak saya mengenal blog memang sudah punya keinginan untuk punya domain address sendiri. Sudah mulai mereka-reka nama dari entah kapan, dari yang awalnya mau pakai nama pribadi aja, sampai mau pakai Β nickname online, eh nyangkutnya sama nama yang dipakai sekarang.

Apa sih yang membuat saya membeli domain sendiri? Err, sebetulnya itu keputusan semi impulsif karena stress diterjang deadline report πŸ˜‚πŸ˜‚. Kenapa semi impulsif? Meski keputusan membeli domain itu seketika, tapi memutuskan beli domain (dan hosting) dimana ngga seimpulsif itu. Sempet saya banding-bandingin dulu antara hosting satu dan yang lain. Kalo nama domain sih sudah merasa sreg dengan domain bawaan domain gratisan dulu, tinggal hapus “wordpress” dan jadilah alamat yang sekarang.

Punya hosting dan domain sendiri ini ternyata ngga seruwet yang saya bayangkan. Hanya tinggal klik one click install, wordpress sudah terpasang. Beberapa kali klik lagi untuk memindahkan posting lama ke posting baru. Lalu dilanjut dengan modifikasi tampilan sesuai keinginan dan voila blog baru pun live dengan segera.

Karena dari dulu selalu merasa lebih nyaman menulis melalui handphone, saya pun otak atik lagi wordpress app dengan cara reinstall. Ngga berapa lama, saya akhirnya bisa nulis posting ini sambil tiduran di sebelah baby F.

Tema blog ini masih ngga jauh beda dengan blog di rumah lama. Hanya saja, saya memang ingin merutinkan kembali menulis blog jadi semoga posting tidak sesporadis blog lama. Amin.

Segitu dulu untuk posting pertama di rumah baru. Ada beberapa ide di kepala sudah menunggu untuk dituliskan.

See you on the next post,
G

Continue Reading

FamilyTrip – Semarang Holiday

Minggu kemarin, saya, L, baby F dan keluarga L liburan di Semarang.
Awalnya sih karena saya ada Business Trip di kawasan Semarang terus L melempar wacana untuk sekalian liburan, dan jadilah sekeluarga berangkat. Kebetulan di Semarang juga ada sodara sodara papanya L.

Saya, L dan baby F berangkat duluan karena saya harus supervisi survey di hari Rabu, sedangkan Mama, Papa dan adik L menyusul di Jumat.

Disana ngapain aja? Dari Rabu sampai Jumat sih saya kerja, L dan baby F ngendon di hotel πŸ˜‚πŸ˜‚.

Continue Reading

Hi 2016!!

Aloha!!

Long time no write nih, sekalinya menulis lagi sudah masuk awal tahun yang baru.

 

Tahun 2015 kemarin adalah tahun rollercoaster untuk saya. Tahun dimana saya pasrah soal jodoh dan fokus pada senang senang saja. Jika tahun 2014, adalah tahun ‘penemuan’ tentang apa yang saya inginkan, tentang definisi standar dan tujuan hidup, maka tahun 2015 adalah tahun penerimaan. Menerima keterbatasan diri, menerima kenyataan demi kenyataan dan menerima bahwa hidup hanya sekali, You Only Live Once, so live it now.

Continue Reading