09
Apr
2019

Dua Sisi Layanan Kesehatan Digital

Saat ini dunia teknologi informasi semakin berkembang. Inovasi yang dipikir akan lebih memudahkan manusia bermunculan terus menerus. Lima tahun lalu, pernah terpikir ngga kalo belanja kebutuhan rumah saja tinggal pakai handphone, klik ina ini itu, bayar dan tunggu barang sampai di rumah? Kemudahan berbasis teknologi ada di sekitar kita, tidak terkecuali di bidang kesehatan.


Sebuah inovasi biasanya ada pro dan kontra, ada sisi negatif dan positif. It’s expected because innovation usually disrupt the norm. Saat ini teknologi informasi di bidang kesehatan bukan hanya soal digitalisasi rekam medis pasien yang dimiliki masing-masing rumah sakit, tapi sudah merambah ke konsultasi dengan dokter secara online. Ngga perlu pergi ke tempat praktek dokter, ngga perlu antri, cukup diam di rumah, hubungi dokter via teks , telepon atau bahkan video call, voila..kita bisa konsultasi dan bahkan mendapatkan resep.


Emang ada ya? Iya. Sebut saja Halodoc, alodokter, atau layanan konseling online seperti riliv.

Sisi positifnya dari aplikasi semacam ini adalah kita mudah sekali berkonsultasi dengan dokter dan tidak mahal (bahkan bisa gratis). It feel that you have your own doctor in arms length. Ngga bisa lagi ada alasan malas ke dokter, malas antri, malas macet-macetan atau biaya dokter mahal. Lha wong uda praktis banget-banget. Malah ada aplikasi yang menggratiskan layanan konsultasi dokter, yang tanpa kode gratis pun biayanya cukup terjangkau.

Selain itu ngga perlu merasa sungkan untuk berbicara dengan para ahli kesehatan ini. Karena kadang-kadang kita kan udah jiper duluan mau ngomong apa sama dokter. Nah dengan konsultasi nir tatap muka ini kita bisa bertanya tanpa sungkan.

Tapi bagaimana dengan sisi sebaliknya? Ada negatifnya kah? Atau ada yang kontra?

Saya pikir masih banyak dokter yang tidak setuju dengan konsultasi tanpa tatap muka.

Kenapa saya bilang demikian? Ada tiga kejadian yang saya alami sendiri; seorang dokter penyakit dalam di ibukota mengernyitkan kening ketika saya bilang bahwa saya konsul mengenai penyakit kronis saya ke dokter spesialis lain via online; yang kedua, dokter selebgram memilih untuk tidak berkomentar ketika saya follow up pernyataannya yang tidak mau melakukan konsultasi online karena bertentangan dengan kode etik dan perundangan, yang ketiga adalah pernyataan seorang dokter saat saya wawancara mengenai aplikasi kesehatan bertahun lalu yang menyatakan bahwa layanan konsultasi dalam aplikasi akan mudah sekali disalahgunakan atau bahkan bisa terjadi salah diagnosa.

Hmm, memang sih dalam konsultasi online yang menjadi sumber diagnosa dokter hanya berdasarkan pengakuan pasien, tidak ada pemeriksaan fisik. Makanya potensi misdiagnosa memang bisa jadi besar. Yang kita ke dokter secara langsung aja, misdiagnosa bukan tidak mungkin terjadi.

Selain itu payung hukum yang melindungi baik dokter ataupun pasien rasanya belum ada. Apalagi kalo sudah meresepkan obat, bisa saja disalahgunakan.

Hal lain yang mungkin bisa membuat kita agak sebal adalah interaksi yang membuat kita harus menunggu beberapa saat untuk mendapatkan respons. Saat melakukan konsultasi online, bukan tidak mungkin dokternya langsung membuka konsultasi dengan beberapa pasien. Apalagi butuh waktu juga kan untuk mengetik respons, belum kalo ternyata jaringan bermasalah.

Saya juga ngga tau apakah aplikasi kesehatan ini menyimpan medical records pasien yang berkonsultasi dengan mereka atau ngga dan apakah bisa diakses oleh dokter yang bersangkutan atau tidak. Karena ketika berkonsultasi secara online, saya sih biasanya ngga terlalu memilih dokter, jadi siapapun yang sedang available. Jadi bukan dokter yang pernah menangani saya sebelumnya juga gapapa. Di sisi pengguna alias pasien memang ada history-nya sih, tapi ngga tau bisa diakses dokter atau ngga.

Pro dan Kontra Penggunaan Aplikasi Kesehatan

Nah dengan pro kontra ini apakah artinya kita tidak memerlukan aplikasi kesehatan? Menolak dengan keras konsultasi via online? Tentu saja tidak. Jangan takut dengan perkembangan teknologi dong, ya kan? Apalagi dari sisi pasien yang merasa dimudahkan, saya sangat mendukung konsultasi online melalui aplikasi kesehatan ini. I’ve been using the apps since 2 years ago and it helps tremendously. Hanya tentunya ada yang harus dipertimbangkan ketika menggunakan aplikasi kesehatan ini, khususnya dalam konsultasi dengan dokter.

Tips Menggunakan Aplikasi Kesehatan

Apa tipsnya?

  1. Memahami momen. Tahu kapan kita bisa berkonsultasi secara online, dan kapan kita harus konsultasi secara fisik alias langsung ke dokter. Untuk hal-hal yang sekiranya gawat ya jangan konsultasi secara online, misal ketika anak kejang, atau dehidrasi, ya jangan konsultasi secara online, tapi langsung ke UGD. Tapi jika untuk pertolongan pertama, mengkonfirmasi dugaan tanpa ada sesuatu yang gawat, second opinion dan juga untuk menenangkan hati bolehlah via online. Misalnya, anak demam tapi tidak ada tanda dehidrasi, bisa tanya-tanya di aplikasi.
  2. Berbicara jujur sesuai gejala, jangan dilebih-lebihkan maupun jangan dikurang-kurangi untuk meminimalisir kesalahan diagnosa.
  3. Caution is needed, jangan karena merasa sudah konsultasi secara online jadi ngga mau konsultasi secara tatap muka.
  4. Mengatur ekspektasi. Ketika kita berkonsultasi dengan dokter, kita biasanya mengharapkan ada obat yang diresepkan. Nah dalam konsultasi online, dokter tidak serta merta meresepkan obat karena mereka juga harus hati-hati kan? Jadi kadang yang kita dapatkan adalah tips kesehatan atau rujukan untuk konsultasi langsung ke dokter spesialis.



Kapan biasanya saya melakukan konsultasi online? Biasanya pas ada gejala yang cukup menganggu tapi belum parah-parah amat, atau pas saya bingung harus ke dokter spesialis apa, tapi kalo ke dokter umum dulu kok rasanya kagok. Oh saya juga pernah sih konsultasi online karena sudah tau diagnosanya dan hanya butuh jenis obat lain. Karena saking lama mengidap penyakit tersebut, jadi yang dibutuhkan hanya kira-kira obat apa lagi yang bisa saya coba.

Layanan kesehatan digital lain yang pernah saya coba adalah layanan konseling dan jasa beli dan antar obat. Untuk beli dan antar obat ini cukup mudah, bahkan sudah bekerjasama dengan beberapa rumah sakit juga sehingga setelah kita konsultasi dengan dokter, kita ngga perlu menunggu di bagian farmasi, tapi bisa langsung bayar dan menunggu obat diantar.

Next saya akan tulis pengalaman menggunakan layanan kesehatan digital ini, ya.

See you,

18 Responses

  1. HM Zwan says:

    Aku sering baca semacam halodoc dll, tapi belum pernah konsultasi langsung. Sekilas jawaban jawabannya netral ya, artinya masih umum.

    • giftalvina says:

      Kalo yang di Alodokter biasanya netral Mba, kalo konsultasi langsung di Halodoc aku beberapa kali dapat diagnosa hehe

  2. Ria says:

    sudah install tp blm pernah menggunakan. mungkin krn lbh suka sekalian aja ke dokter. tips2nya benar, hrs bs membedakan mana yg urgent utk segera lgsg ke IGD dan mana yg tidak. Kl sdh darurat ya mending gerak cepat krn berpacu sm waktu… Nice input 👍👍👍

  3. Nathalia DP says:

    Setuju banget sama tips2nya… Pintar2 kita aja ya memanfaatkan teknologi dengan bijak… Tau kpn cukup konsultasi online, kpn harus konsultasi tatap muka 🙂

  4. Lina Sophy says:

    Kalau baca artikel kesehatan saya sering, terus kalau habis berobat kadang cari referensi tentang obatnya. Kalau konsultasi langsung belum pernah sih, next mungkin bisa dicoba yaaa

  5. Ucig says:

    Nggak selalu harus konsul tatap muka ya mba. Aku jg setuju, klo via online bisa dilakukan utk pemeriksaan kesehatan. Tentu klo udah harus periksa ya segera diperiksakan langsung..

  6. Rachmanita says:

    Aku belom pernah pake aplikasi ke dokter gitu.. Lebih sering wa langsung ama dokter langganan terus ke RS deh… Maklum jadul…

  7. Aku udah tahu sih layanan konsultasi ini, tapi belum pernah pakai. Kemarin sempat mau konsultasi, tapi waktu udah sembuh gak jadi, hihiii

  8. Ida Raihan says:

    Sudah sering baca-baca alodokter, tapi ya baca pertanyaan yang sudah ada di sana. Kalo konsultasi sendiri belum pernah.

  9. Ria Rochma says:

    Kalau saya,
    Untuk layanan kesehatan online, saya cari informasi ajah ya. Kan mereka juga menghadirkan informasi2 seputar penyakit dan gejalanya. Tapi untuk konsultasi, saya masih milih tatap muka.

  10. ivonie says:

    konsultasi pakai apliaksi belum pernah sih, tapi kalau sekadar konsultasi buat penangan pertama sebelum ke dokter pernah via online.

  11. Eska says:

    Tulisannya mencerahkan sekali mba. Sama kaya apa yang aku pikirkan ketika muncul aplikasi2 konsultasi dokter itu. Bagus, tapi tetap bijaklah kita sebagai pasien. Jangan sampai sesuatu yang mestinya ditangani langsung oleh yang berwenang, malah hanya dikonsulkan melalui aplikasi

  12. Indah Nuria says:

    Terus terang aku belum pernah konsultasi online but it can be a good alternative for those who need it

  13. Liza says:

    Memang, untuk dokter-dokter sepuh, mereka masih enggan kalau konsultasi via daring. Hubungan dokter pasien lebih dari itu. Terus ada batasannya juga. Tapi kalau sekadar konsultasi, its okay menurut saya. Saya juga sering menerima konsultasi online. Hanya saja untuk terapi harus diperiksa langsung

  14. Indri Noor says:

    Saya juga menggunakan aplikasi hanya untuk memberikan gambaran awal aja sih. Tetap nantinya kalau gejala masih lanjut, konsultasi langsung dengan dokternya.

  15. Helena says:

    Hai Mbak,
    salam kenal yaa.
    Aku pernah pakai konsultasi via online, memang sangat praktis. Namun, itu seperti teaser sebelum pemeriksaan lebih lanjut ke dokter dengan tatap muka.
    setuju dengan poin pertama bahwa kita harus tahu mana yang perlu konsul langsung, mana yang cukup via online.

  16. Ria Fasha says:

    Aku belum pernah sih konsultasi online mbak. Biasanya hanya sekadar baca artikelnya aja untuk penyakit2 umum. Tapi kalo anak sakit tetap kubawa ke dokter karena khawatir diagnosa kurang tepat krn ga liat langsung

  17. Siti hairul says:

    Aku sering klo gugling tentang masalah kesehatan eh dapat infonya di alodocter. Solutif banget sih informasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published.