Hati Hati Saat Migrasi Hosting

Bulan November lalu, saya memutuskan untuk pindah hosting dari hostgator. Kenapa pindah? Soalnya renewal feenya mahal. Sekitar USD 107. Untuk blogger pemula macem saya tentu harga segitu kemahalan.

Setelah melakukan riset kecil-kecilan, saya memutuskan untuk pindah ke hosting lokal. Pertimbangan saya untuk pindah ke hosting lokal adalah harga yang lebih murah dan support yang lebih cepat karena ada di belahan bumi yang sama.

Hosting lokal yang saya pilih adalah Jagoan Hosting milik beonmedia. Setelah konsultasi singkat dengan tim salesnya via livechat, akhirnya saya memilih paket Superstar. Paket yang katanya cocok buat saya dengan unlimited storage dan bandwidth. Berbeda dengan plan saya di hostgator yang menggunakan shared hosting, hosting yang baru menggunakan cloud base sehingga katanya sih downtime bisa lebih jarang.

Domain sendiri masih saya gunakan domain yang lama. Transfer domain ini dibantu sama tim jagoan hosting jadi kita tinggal unlock domain dan menginfokan epp code. Sebetulnya migrasi situs juga bisa dibantu juga, tapi ada missunderstanding dan misscommunication antara saya dan jagoan hosting sehingga website lama saya hilang. Blas. Saya sempat sedih dan mellow banget pas tau posting, page view, comment hilang begitu saja.

Proses migrasi situs ternyata harus diinisiasi oleh pemilik situs dengan menginformasikan username dan password  cPanel ke jagoan hosting, sesuatu yang terlewat karena saya pikir sudah sekaligus sama domain transfer. Padahal kita yang harus request.

Jadi ceritanya sih saya sudah request ketika ngobrol via live chat dengan si sales. Saya request dua hal, domain transfer dan  migrasi situs. Mbak live chat pun sudah mengiyakan dan ngga lama setelah saya melakukan pembayaran memang sudah langsung di follow up untuk memberikan EPP code dan memulai domain transfer.

Ndilalah, setelah domain transfer selesai tidak ada notifikasi sama sekali, dan saya dengan antengnya menganggap bahwa domain dan situs sudah termigrasi. Yang mana kalo dipikir secara logis, gimana jagoan hosting bisa migrasi situs saya kalo saya ngga pernah ngasih akses, ya kan?

Dengan pemikiran segala perpindahan sudah selesai, saya anteng ngeblog via aplikasi di handphone, hingga tiba notifikasi dari hosting lama yang nagih renewal billing. Tanpa pikir panjang saya langsung cancel dan ngga sampe 24 jam kemudian konfirmasi pembatalan sudah diterima. Ketika pihak hosting sudah mengkonfirmasi pembatalan, data kita di server dia pun otomatis terhapus dan ngga bisa di recover.

Lalu website ini ngga bisa diakses. Dibilangnya “account suspended”. Saya panik dong dan kontak support jagoan hosting. Setelah tektok-an ternyata routing server masih ke hosting lama, dan diresolved dengan cepat oleh tim CS jagoan hosting. Setelah menunggu sekitar 24 jam sesuai yang dijanjikan, masih account suspended aja, tapi setelah flush DNS, bisa diakses sih, tapi websitenya putih. Persis halaman web ngga ada isinya.

(Baca juga: Resolusi 2018)

Setelah tektok lagi sama tim CS, akhirnya tercapai kesimpulan bahwa blog saya tidak bisa diselamatkan. Saya mellow sekitar tiga harian sebelum akhirnya menguatkan diri dan membulatkan niat untuk bikin aja pake yang baru. Ada beberapa post yang saya sempat copas ke email via apps tapi ngga semua. But it is better than nothing, kan ya?

Tampilan blog sesaat setelah buat baru

Lalu, dimulailah masa-masa install ulang wordpress lagi. Ngotak-ngatik theme lagi. Sampai saya masuk ke halaman plugin dan menemukan plugin updraft plus backup & restore yang pernah saya install dulu. Re-install pluginnya, terus otak-atik. Dan saya punya back upnya!!!

Salto-salto bahagia dalam benak saya pas nemu back up blog. Meski ternyata karena ketidakpedulian saya, saya hanya punya back up sampai bulan Juli. Posting Agustus sampai November menghilang. Tapi itu aja bisa ke recover saya sudah bahagia.

Jadi buat kamu yang mau pindah hosting seperti saya, perhatikan banget dua hal ini:

  1. Domain transfer bisa dilakukan dengan mudah dan most of the hosting service provide free domain transfer service. Kenapa domain transfer? kenapa ga bikin domain baru aja? Buat saya domain itu brand kamu di sosial media. Sometimes we knows the blogger karena domainnya, misal haloterong.com punya nahla. Meski bisa juga sih kamu branding via header atau tagline. Tapi domain tetep lebih gampang buat diinget karena itu yang bakal kita ketik di address bar.
  2. Pastikan punya back up situs kamu. Plug in wordpress untuk back up dan restore ada kok dan mudah digunakan. Ini adalah failsafe ketika kamu melakukan kesalahan yang sama dengan saya saat migrasi situs.

Nah itu cerita saya soal ‘pindah rumah’ di akhir tahun lalu. Curhat panjang yang hanya membuahkan 2 poin kewaspadaan supaya ngga ada lagi yang bikin kesalahan sama dengan saya.

See you on other post.
Cheers,

 

You may also like

4 Comments

    1. Masa sih mba? Aku waktu back up ngga makan disk usage banyak deh kalo ngga salah. Kemaren sempet pengen pindah ke blogger tapi males belajar lagi heuheu

Leave a Reply

Your email address will not be published.