High Tension Pilkada + Sentimen Rasis = Mimpi Buruk

Disclaimer:  This is another curhat post. Semacam keresahan karena terbangun dari mimpi buruk hari ini. Very personal view. Don’t say I didn’t warn you ya.

 

Mimpi buruk membangunkan tidur saya hari ini, begitu buka mata sambil ngos-ngosan saya langsung menciumi baby F.  Saya sering mendapatkan mimpi yang vivid  dimana jalan cerita terlihat nyata dan mempengaruhi kondisi fisik ketika bangun. Tapi mimpi yang tadi sukses bikin saya resah dan agak ketakutan.

Sudah bukan berita lagi bahwa Pilkada DKI 2017 ini tensinya tinggi sekali. Masing-masing kubu bermain dengan apik kadang licik untuk mendapatkan suara. Saling serang dan menihilkan program kerja lawan jadi sebuah hal lumrah, even  saling sindir di panggung debat terbuka pun dilakukan pasangan calon. Saya ngga tahu debat politik yang bener itu kayak gimana, tapi kok ya saya ngga suka liat sindir-sindiran begitu. Terlalu receh dan remeh aja gitu. Semoga di ronde kedua nanti bisa lebih bijak ya penyampaian kampanye tanpa sindir menyindir. Amin.

Hal lain yang juga bikin saya meringis adalah bagaimana sentimen rasis jadi komoditi utama untuk menyerang kubu sebelah. (Disclaimer kedua: saya bukan suporter kubu sebelah). Sedih bacanya ketika liat banyak meme menyerang ras berlawanan. Saya ngga mau bilang keturunan cina vs pribumi ya karena dengan menggunakan bahasa tersebut seolah-olah warga keturunan cina itu bukan pribumi, padahal bisa jadi yang bersangkutan lahir gede di Indonesia, yang mana dia pribumi juga dong. Let say keturunan cina vs jawa, sunda, betawi dan ras lainnya aja supaya adil. Supaya sama-sama nama suku.

Si meme yang menyalahkan dan menakut-nakuti bahwa warga keturunan cina akan meraja dan memperbudak warga dari ras lainnya sepertinya berperan dalam trigger mimpi saya kali ini. Soalnya saya mimpi bahwa rumah saya diserang massa. Jadi ceritanya saya lagi di kamar, dan ada gerombolan orang yang menerobos masuk sambil menodongkan pistol, L dan baby F lagi di ruangan lain. Mereka bilang bahwa saya dan keluarga harus dibunuh karena kami cina. Saya yang takut sambil geram malah bales perkataan mereka dengan bahasa Sunda kasar. Heck I still remember what I said, words per words till now.

Ini adalah yang saya katakan pada mereka yang menyerang rumah “Na ari sia teu bisa neuleu? Aing cina ti beulah mana? Cik atuh mikir saeutik mah! Maehan jelema saukur ningali tina bengeut, saukur ngadenge ti batur! Naon bedana sia jeung PKI nu dihina ku sia? Ngeunah wae sia mah rek maehan batur teh. Aing, salaki jeung anak aing lahir didieu, naha dicap cina ku sia? Nu salah mah lain cina, sia nu goblok kabina-bina!” yang mana perkataan saya kemudian diterjemahkan oleh salah satu dari gerombolan massa ke bahasa Jawa. Scene selanjutnya adalah ketika baby F tetiba muncul sambil nangis dan digendong bapaknya. Liat baby F nangis kejer begitu, meski saya tahu dan sadar kalo itu mimpi tetep aja pilu yah, saya pun akhirnya memaksa diri saya sendiri untuk bangun dan ngga melanjutkan mimpi buruk tersebut.

Saya sedih banget kalo ada yang menyebarkan meme dengan sentimen rasisme atau anti cina. Bukan hanya karena saya menikah dengan warga keturunan cina. Tapi juga karena begitu  mudahnya masyarakat melempar bola api dengan sentimen negatif ras. Rasa-rasanya saya ngga perlu cerita tentang rusuh 1998 yang menimpa saudara sebangsa kita yang kebetulan beretnis cina, tapi berapa banyak warga suku lain yang sadar bahwa banyak warga etnis cina yang masih membayar harga dari kerusuhan tersebut sampai sekarang? Bukan tentang kerugian materil saja, tapi mental dan trauma yang disebabkan oleh kejadian itu.

Sekarang coba deh kalo dibalik, bagaimana jika etnis kita sendiri yang jadi korban? Bagaimana jika etnis kita yang jadi kambing hitam dan di-ridicule? Pasti pada ngga terima dan perang akan terjadi dimana-mana.

Mungkin banyak yang bilang bahwa etnis cina yang mulai duluan dengan ekslusivitas mereka, tapi apa kita lupa jika masing-masing etnis memiliki rasa ekslusivitas sendiri? Mungkin ada yang bilang bahwa perusahaan yang dimiliki oleh etnis cina rasis dan lebih menyukai warga keturunan di posisi vital. Iya sih, saya mengakui bahwa sentimen itu ada, tapi masa kita mau mencontoh yang buruk juga sih?

Saat ini, memang ada berita dimana imigran Tiongkok mulai masuk dan menjamah daerah kita. Ok, saya paham, saya juga mempertanyakan apa tindakan pemerintah untuk meredam hal tersebut,   tapi bukan berarti kita menumpahkan kekesalan pada warga etnis cina dong yah. Coba di bold dan di underline, beda banget loh antara imigran Tiongkok dan WNI etnis cina. 

Jadi yah guys, teman-teman, bapak, ibu, sodara-sodara, untuk kampanye pilkada DKI putaran kedua yuk kita hindari statemen-statemen rasis seperti ini. Jika ngga suka dengan kubu sebelah, jangan dengan sentimen rasis tentang warga keturunan cina, tapi coba dikritisi program-programnya, kinerjanya, atau caranya berkomunikasi atau apa kek gitu. I believe you all better than that!

 

Salam,

 

Ibu satu anak yang masih ngos-ngosan kalo inget mimpi buruk hari ini.

You may also like

3 Comments

  1. Agree. Masih banyak yg alergi dengan orang yg mereka sebut ‘cina’, padahal sama-sama orang Indonesia.
    Kalo dari omongan mah kosa kata mereka cuma menuju satu inti: iri. Ga bisa menandingi yg akhirnya cuma bisa memaki, ya kalo ga mau disebut membenci.
    Jaman udah maju, manusianya masih ketinggalan. Pola pikirnya, dan parahnya mudah didoktrin orang2 yang sama ga pahamnya. Jadinya ruwet. Menyedihkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.