Rabu Riset: Metode Pengumpulan Data Kuantitatif

ALOHA! Ketemu lagi di #RabuRiset. Setelah dua post kemarin bercerita tentang review singkat kunjungan saya di kota Medan dan review Kuliner, diseling dulu sama posting yang satu ini ya.

Well, dulu saya pernah menulis tentang  komponen penting dalam riset dan juga tentang validitas data. Tulisan kali ini saya akan membahas tentang metode pengumpulan data yang biasa saya lakukan di tempat kerja. Sesuai judulnya saya hanya akan mengulas soal metode kuantitatif aja dulu ya. Metode kualitatif semoga bisa dipost minggu depan.

Continue reading “Rabu Riset: Metode Pengumpulan Data Kuantitatif”

EATEN: Bakso Amat Medan

Sesuai sama janji saya di postingan sebelumnya. Saya mau share review tentang Bakso Amat Medan. Semenjak mengenal Bakso Amat, bakso ini jadi semacam makanan wajib bagi saya setiap berkunjung ke Medan. Pernah lupa namanya dan saya langsung telepon teman saya yang asli Medan. Malah, dulu saking lupa namanya saya bilang kalo baksonya ada di dekat jembatan! Padahal jembatan di Medan tidak hanya satu ya.

Continue reading “EATEN: Bakso Amat Medan”

Workcation; MEDAN!


Setelah bulan November lalu, saya melakukan Business slash Family Trip ke Semarang. Kali ini saya terbang ke Medan buat #workcation. Saya tinggal 3 hari 2 malam di Medan dan sendirian 🙁

(Baca juga cerita FamilyTrip ke Semarang)

Ini bukan kali pertama saya ke Medan tapi kedua kalinya saya mendarat di Kualanamu. Waktu itu Bandara Kualanamu masih baru dibuka, masih belum keliatan megahnya.

Apa aja yang saya lakukan di Medan? Kerja dan makan. Aktivitas saya ngga terlalu banyak dan memang ngga berwisata juga karena obyek wisata di kota Medan kan terbatas ya.

Continue reading “Workcation; MEDAN!”

Rabu Riset: The Life Stages

Dua tahun belakangan ini, setiap saya melakukan studi kualitatif ada hal menarik yang saya amati meski studi yang dilakukan adalah studi lintas industri. Hal ini juga terjadi di lingkaran kawan-kawan yang saya observasi.

Apa sih yang saya lihat? Sadar atau tidak perilaku dan value yang kita miliki sangat dipengaruhi oleh life stage. Saya yakin mereka yang pernah belajar psikologi tahu mengenai si tahapan hidup ini, pun praktisi atau akademisi di bidang pemasaran. Tapi rasanya dengan studi dan observasi yang dilakukan si teori life stage ini beneran terpampang nyata.

The behaviour and own values differences between life stages is glaringly seen. Apa yang dilihat sebagai hal yang penting di satu tahap kehidupan, mungkin menjadi hal yang kurang penting di tahap kehidupan lainnya.

Tapi apa sih life stages itu? Let me put it this way, tahap kehidupan adalah tahapan yang akan dilalui individu sesuai dengan usia dan perubahan status yang mereka miliki. Dari segi usia kita mengenal yang namanya baby – toddler – kids – teen – young adult – adult – elder. As we grows, the behavior also changes. Berbicara tentang perilaku, maka kita juga bisa cek kebiasaan pembelian barang atau jasa dari masing-masing tahap ini. Biasanya kalau di bidang kerja saya, kita bagi jadi teen, single adult, married without kids, married with kids dan elder. Kenapa ngga ada young adult? Macem dedek dedek kuliah? Biasanya sih kita masih anggap mereka sebagai teens. Karena di kacamata kita, they have no income yet even though they can be a decision maker, same with teens, no?   

On to the life stages, yuk kita bahas satu-satu mulai dari teen sampai elder. I warn you that it’s gonna be quite long read.

 

Continue reading “Rabu Riset: The Life Stages”