Tiga Hal yang Saya Pikirkan Sebelum Menikah

Marriage is a verb, it is a never ending work. A lifetime adaptation.

Siang tadi, saat break makan siang teman saya mengutarakan kekhawatiran jika sensasi setelah menikah yang dirasakan adalah ‘meh’ feeling,  hal yang biasa diutarakan dengan “segini aja nih?”. Hal tersebut mengingatkan saya bahwa kadang, sebagai perempuan, kita terlalu fokus pada the wedding day, kadang juga kita menempatkan marriage in pedestal that will make us happy just because. Kita kadang lupa bahwa pernikahan dimulai setelah akad.

Saya pernah posting tulisan mengenai hal yang berubah setelah menikah dan ditulis 33 hari setelah kami menikah. Looking back, the first month truly is the honeymoon period jika dibandingkan dengan bulan-bulan setelahnya. Tapi saya masih percaya bahwa pernikahan merupakan adaptasi tanpa henti di usia pernikahan saya yang masih sangat muda ini.

Continue reading “Tiga Hal yang Saya Pikirkan Sebelum Menikah”

Choices, Choices: Memilih Menitipkan Anak

Sepertinya isu klasik yang dihadapi oleh ibu pekerja seperti saya ketika mendekati masa cuti melahirkan selesai adalah mau lanjut kerja atau berhenti dan full di rumah? Bahkan pertanyaan ini muncul ketika masih hamil dan jabang bayi belum lahir.

Saya memilih untuk tetap bekerja, pilihan yang saya ambil bahkan sebelum menikah. Pokoknya saya ingin bekerja karena kalo di rumah saya bisa stress kena cabin fever. Soalnya saya adalah tipe orang yang jarang keluar rumah kalo ngga penting banget atau ngga pengen-pengen banget.

Continue reading “Choices, Choices: Memilih Menitipkan Anak”

Hi, 2017!

Terinspirasi dari challenge-challenge yang menyebar di dunia maya, saya pun berinisiatif untuk mengikuti challenge One Day One Post. Tujuannya adalah untuk kembali menulis dengan rutin dan melihat sudah sejauh mana komitmen saya untuk menulis blog. Saya tahu bahwa saya memiliki masalah dengan komitmen menulis, makanya saya menantang diri saya sendiri.

Untuk posting kali pertama ini, akan saya awali dengan cerita ringan tentang apa yang saya lakukan di hari pertama pada tahun 2017 ini. Tulisannya bakal ringan sekali karena saya ngga tau harus nulis apa setelah impulsively decided untuk ikut ODOP.

Continue reading “Hi, 2017!”

FamilyTrip: Baby F First Flight


Masih berhubungan dengan posting FamilyTrip sebelumnya, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman pertama baby F liburan dan naik pesawat.

Baby F memang sudah biasa bepergian semenjak bayi. Usia kurang dari sebulan sudah bepergian Jakarta-Puncak, dan Puncak – Garut – Puncak. Baru tiga bulan saja, baby F sudah pernah ke kab. Bandung dan Kuningan karena ada acara keluarga besar. Maceuh sekali yak, anak saya.

Berbarengan dengan business slash family trip kemarin, saya dan L memberanikan diri untuk membawa baby F pergi agak jauh, ke Semarang, dengan pesawat terbang. Ngga tau ya buat orang tua yang lain, tapi buat saya dan L membawa bayi bepergian naik pesawat untuk pertama kali itu a big deal meski cuma penerbangan domestik dengan waktu tempuh selama 1 jam.

Continue reading “FamilyTrip: Baby F First Flight”