Rabu Riset: The Life Stages

Dua tahun belakangan ini, setiap saya melakukan studi kualitatif ada hal menarik yang saya amati meski studi yang dilakukan adalah studi lintas industri. Hal ini juga terjadi di lingkaran kawan-kawan yang saya observasi.

Apa sih yang saya lihat? Sadar atau tidak perilaku dan value yang kita miliki sangat dipengaruhi oleh life stage. Saya yakin mereka yang pernah belajar psikologi tahu mengenai si tahapan hidup ini, pun praktisi atau akademisi di bidang pemasaran. Tapi rasanya dengan studi dan observasi yang dilakukan si teori life stage ini beneran terpampang nyata.

The behaviour and own values differences between life stages is glaringly seen. Apa yang dilihat sebagai hal yang penting di satu tahap kehidupan, mungkin menjadi hal yang kurang penting di tahap kehidupan lainnya.

Tapi apa sih life stages itu? Let me put it this way, tahap kehidupan adalah tahapan yang akan dilalui individu sesuai dengan usia dan perubahan status yang mereka miliki. Dari segi usia kita mengenal yang namanya baby – toddler – kids – teen – young adult – adult – elder. As we grows, the behavior also changes. Berbicara tentang perilaku, maka kita juga bisa cek kebiasaan pembelian barang atau jasa dari masing-masing tahap ini. Biasanya kalau di bidang kerja saya, kita bagi jadi teen, single adult, married without kids, married with kids dan elder. Kenapa ngga ada young adult? Macem dedek dedek kuliah? Biasanya sih kita masih anggap mereka sebagai teens. Karena di kacamata kita, they have no income yet even though they can be a decision maker, same with teens, no?   

On to the life stages, yuk kita bahas satu-satu mulai dari teen sampai elder. I warn you that it’s gonna be quite long read.

 

Photo from here

Teen 

Remaja adalah fase pertama dimana seorang individu mulai diberi kebebasan untuk memutuskan apa yang ingin dia beli atau apa yang ingin dia gunakan. Apalagi para remaja generasi post millenial dan hidup di kota besar dimana fasilitas pelengkap hidup tersedia dan tumbuh di keluarga yang demokratis nan independen.

Pada usia 13 tahun ke atas, biasanya mereka sudah bisa menentukan mau pake merek apa dan beli dimana. Remaja sangat mungkin ngikut mama papa grocery shopping dan bisa memasukkan barang yang mereka inginkan ke troli tanpa harus ada debat-debat dulu. Terkecuali untuk barang – barang mewah dengan harga mahal (yang tentu saja relatif), orang tua kadang tidak dimintai pendapat dan sokongan dana lebih.

Apa yang paling penting buat para teens ini? STATUS & TEMAN. As a teens, they sometimes aspire to be the most; either paling gaul, paling cantik, atau paling yang lainnya. Ngga banyak yang mau hidup under the radar. Mereka menempuh cara-cara supaya bisa menonjol, entah berhasil atau ngga. That’s why #likeforlike ato folbek dong kaka is trending because most teens and tweens looking for popularity. Selain itu, di masa remaja yang identik dengan ajang pencarian jati diri, pengakuan jadi sesuatu yang didamba bukan?

Untuk t(w)eens, teman juga berpengaruh. Rasa-rasanya diterima oleh teman jadi satu hal yang lebih penting dibanding akur dengan keluarga. Friends opinion is valued yet family or authority opinion is seen as restrictive. Jadi jangan heran kalo key influencer mereka adalah teman atau seleb yang dianggap teman.

Biggest expenditure selain biaya pendidikan di masa teen biasanya ada di post main atau nongkrong sama teman-teman. Tempat hang out yang dicari? Most goes to convenience store untuk alternatif murah meriah, some goes to cafe untuk nongkrong syantiek, some goes to fast food outlet. Kumpul kumpul di rumah teman is so generasi 90-an.

Single Adult

Masa remaja sudah lewat, saatnya menjadi atau memaksakan diri buat jadi dewasa. Di masa dewasa lajang yang biasanya sudah punya penghasilan sendiri dan tidak lagi bergantung pada orang tua, biggest challenge biasanya ada di financial management. How could the single adult live conveniently without having to loan to parent in the middle of the month.

Bagi yang tinggal terpisah dengan orang tua biasanya sudah mulai ribet dengan bills (telepon, listrik, sewa rumah/kost), bagi yang masih tinggal serumah kebanyakan sudah mulai rutin memberi pada orang tua sebagai partisipasi dalam pengeluaran rumah tangga. Bagi mereka yang punya adik, many is asked for help to fund their siblings education.

Apa yang paling penting buat si dewasa lajang? Biasanya adalah Keluarga, Kesehatan dan Aktualisasi Diri. Keluarga dan kesehatan dianggap penting karena mau ngga mau itu dua komponen they rely on the most. Komponen yang paling menarik adalah aktualisasi diri dengan cara menyalurkan hobi atau melakukan ambisi-ambisi pribadi. Berhubung sudah punya uang sendiri, rasa-rasanya ngga ada lagi yang menghalangi untuk modif mobil, beli mainan mahal atau travelling sana-sini.

What’s their biggest concern? Meski terlihat seperti easy come, easy go person dan yang paling eligible buat mengimplementasikan YOLO (you only live once), single adult juga punya concern yang biasanya berhubungan sama karir atau jodoh. Yang jadi kekhawatiran dalam hal karir itu antara lain; apakah pekerjaan sekarang sesuai dengan passion? does the work worth it salary? How the future looks like in my current job? Apakah gaji bisa mencukupi gaya hidup? Yang jadi bahan galauan soal Jodoh yaah itu udah ngga usah dibicarain yah. Karena kan jodoh itu misteri (ngga berbau riset sama sekali ya inii, maafkaan). Anyway, buat dewasa lajang, masalah jodoh jadi kekhawatiran lebih karena tuntutan kultural, secara personal sih most of them feel fine about their relationship status, tapi kalo udah ngomongin keluarga, ato masyarakat sekitar  kelar lah udah.

Biggest expense dimana? Biasanya di gaya hidup. Sudah ngga aneh jika dewasa lajang menghabiskan waktu dengan mall hopping, ngopi syantiek, atau nongkrong santai di lounge after working hour atau wiken. Selain itu biaya yang paling besar adalah LIBURAN. Ngga jarang yang nabung buat bisa liburan sebulan sekali ke luar kota atau ke destinasi wisata eksotik lainnya. Ngga jarang juga yang memanfaatkan the power of kartu kredit dengan promo yang menjerat mata.

Married Without Kids

Setelah gegalau soal jodoh, para single adult masuk ke fase married without kids. Fase yang dimulai dengan adaptasi hidup bersama pasangan ini tentunya mengubah gaya hidup.

Di tahap ini yang menjadi penting adalah pasangan dan punya rumah atau kendaraan jadi impian bersama. Di masa ini sudah mulai pusing dengan tambahan cicilan, either KPR atau mobil. Manajemen keuangan sudah mulai rapi karena punya banyak pos tabungan (atau cicilan), volume belanja bulanan jadi meningkat tapi belum terlalu signifikan.

Gaya hidup memang berubah, tapi belum begitu drastis. Hangout santai, kopdar atau ngopi syantiek masih dilakukan tapi biasanya frekuensi berkurang. Waktu kosong, selain digunakan untuk berdua juga digunakan untuk keluarga dua belah pihak.

The biggest concern? Financial stability. Baik pria maupun wanita mengkhawatirkan stabilitas finansial apalagi di masa membangun keluarga. Biasanya sudah mulai playing safe dalam hal pekerjaan. Yang penting dapur ngebul, lepas dari sesuai passion atau ngga, karir melesat atau mandek.

Biggest expense?  Cicilan & Tabungan.

Married with kids

Mereka yang sudah menikah dan punya anak memiliki kekhawatiran yang berbeda. Kehadiran anak mengubah banyak hal. Prioritas dalam hidup disorting kembali, dan anak jadi yang utama.

Belanja bulanan jadi semakin banyak, apalagi jika si anak masih bayi yang punya produk sendiri. Dari mulai sabun sampai makanan. Lebih besar sedikit, budget camilan jadi bertambah.

The biggest expense? Pendidikan. Pendidikan anak jadi porsi yang paling besar mengingat biaya spp yang juga membengkak, belum lagi biaya les ini itu.

Orang tua dengan anak biasanya sudah mulai melirik asuransi dengan investasi, atau tabungan berjangka untuk menjamin biaya pendidikan anak.

Elder 

Mereka yang  disebut elder, bukan  mereka yang sudah tua ya. Tapi juga orang tua yang memiliki anak yang sudah dewasa dan tidak lagi menjadi tanggungan. Mereka yang masuk kategori ini biasanya sudah mapan secara finansial. Memiliki (beberapa) aset dan menjalani hidup dengan nyaman.

Golongan ini kerapkali disebut golongan elite karena mereka memiliki dana dan waktu yang cukup. Hidup mereka biasanya kembali berfokus pada diri sendiri dan pasangan.

Hal yang paling penting adalah kebersamaan keluarga dan kesehatan. Beberapa sudah terpikir tentang warisan yang ingin ditinggalkan, baik dari  sisi aset maupun family/personal values. 

Pengeluaran terbesar? Biasanya ada di liburan. Memiliki banyak waktu dan dana enable them to enjoy life. Liburan dengan keluarga atau liburan dengan pasangan menyerap cost mereka. Untuk masalah kesehatan biasanya tercover oleh asuransi.

 

Itu yang ingin saya bagi di #RabuRiset kali ini. #RabuRiset selanjutnya semoga bisa lebih banyak bercerita tentang penemuan atau insight menarik.

 

 

Cheers,

 

G

You may also like

2 Comments

  1. syukaa dengan tulisan ini, sampai pada tahap married without kids dan merasa yes thats true

    apalagi bagian playing safenya terutama buat cewek, aduuh mau loncat cari yang sesuai passion kok masih gimana gitu…

    sementara aneka kewajiban (baca: cicilan) belum berenti

Leave a Reply

Your email address will not be published.