RabuRiset: Metode Pengumpulan Data Kualitatif

Hi hi..kembali lagi di RabuRiset. Setelah sempat vakum like 4 bulan-an, kali ini saya mau sharing tentang metode pengumpulan data kualitatif. Tapi, metode ini tidak akan saya bahas dari segi ilmiah atau teoritis ya, ini murni dari sisi praktis, dari apa yang saya jalani dalam pekerjaan saya dalam 6 tahun terakhir ini.

Pengumpulan data kualitatif ini biasanya dilakukan ketika kita pengen mengeksplorasi lebih dalam mengenai kehidupan responden atau alasan alasan responden saat melakukan sesuatu. Secara umum sih, metode kualitatif bisa kita bagi menjadi 3 yakni Wawancara Mendalam alias In-Depth Interview (IDI), Diskusi Kelompok terarah alias foucs group discussion (FGD) dan Home Visit.

Tapi sebelum membahas lebih lanjut tentang metode teknisnya, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan dalam perekrutan responden kualitatif. Jika di metode kuantitatif kita bisa saja mewawancarai semua orang asal sesuai dengan screener, di kualitatif ini kita harus pastikan kalo selain respondennya sesuai dengan screener tapi juga artikulatif dan mau meluangkan waktu sekian jam untuk ngobrol-ngobrol sama kita. Kenapa harus artikulatif? karena kita akan mengobrol dan berdiskusi panjang, sehingga kita membutuhkan responden yang dapat menyampaikan ide dan gagasan dengan efektif. Sulit mewawancarai orang yang tidak artikulatif karena mereka biasanya menjawab dengan jawaban pendek, tanpa deskripsi atau berakhir dengan “Ya gitu deh pokoknya”

Tentang In-Depth Interview

In-Depth Interview bisa dilakukan hanya dengan 1 responden, berpasangan atau trio. Tapi kalo berpasangan disebutnya Dyad, dan trio disebut dengan Triad. IDI dilakukan untuk membahas hal-hal yang sekiranya sensitif untuk didiskusikan dalam group. Durasinya bervariasi, dari 1 sampai 3 jam. Biasanya IDI dilakukan untuk responden B2B alias responden dari perusahaan atau company. Tapi ngga menutup kemungkinan juga IDI dilakukan dengan konsumen langsung.

Plusnya IDI adalah kita bisa menggali sangat dalam tentang satu isu dengan satu orang. It‘s just like we can peel their thinking process layer by layer until we are satisfied atau sampai dia bingung dan ngga bisa jawab. Selain itu, karena respondennya hanya 1 – 3 orang, biasanya mereka lebih terbuka dan meminimalisir pretensi.

Tantangan saat IDI lebih ke limitasi sudut pandang aja, jadi saat ngobrol kita hanya dapat berinteraksi dengan 1 sudut pandang, jadi kurang mengeksplorasi respons opini dari beberapa sudut pandang.

(Baca juga soal: Rabu Riset: Metode Pengumpulan Data Kuantitatif)

Tentang Focus Group Discussion

Diskusi kelompok terarah biasanya dilakukan dengan mengundang 4 – 10 orang. FGD dengan 4 orang biasanya disebut mini FGD, dilakukan dengan responden yang High Net Worth atau agak sulit untuk dikumpulkan. Mini FGD ini sensasinya mirip-mirip dengan triad.

Sekarang-sekarang ini FGD biasanya dilakukan dengan 6 orang responden aja, agar lebih efektif dan semua kebagian kesempatan untuk berbicara. FGD dengan 8 orang responden menurut saya ngga terlalu efektif karena akan ada 1 – 2 orang yang ngga bisa kita probe untuk bicara.

FGD akan menyenangkan jika semua peserta aktif untuk mengutarakan pendapat dan disiplin menunggu giliran alias ngga motong-motong orang lain yang lagi berpendapat. Sisi menyenangkan dari FGD ini adalah kita bisa dapet banyak opini dari sudut pandang yang berbeda dalam waktu 2 – 3 jam.

Yang tidak menyenangkan adalah ketika dapet responden yang terlalu aktif sampai kita harus menyetop dia berulang kali atau responden yang terlalu nyeleneh, enjoy too much being the clown of the group karena itu sangat disruptif dan membuat moderator pelan pelan kehilangan kesabaran.

Tentang Home Visit

Jika FGD dan IDI fokus di pengutaraan pendapat, dengan home visit kita bisa juga mengecek cara mereka menyimpan atau mengkonsumsi suatu barang. Metode wawancaranya sih masih sama dengan IDI, tapi karena dilakukan di rumah responden yang mana merupakan lingkungan yang nyaman buat dia, jadinya mereka lebih lepas dan keliatan nyaman dalam menjawab.

Oh iya, home visit ini bisa berupa hanya IDI alias wawancara aja, bisa berupa wawancara plus observasi kecil yang mana biasanya wawancara dilakukan dulu, lalu nanti kita minta responden melakukan satu kegiatan. Atau bisa juga semi etnografi, dimana mereka melakukan sesuatu sambil kita observasi dan wawancara. Pembahasan etnografi deserved one separate post yang mana saya belom pede buat bahas. Monggo loh temen temen sosiologi kalo mau share soal etno.

Home visit consumed most time if we compare with other two. Kenapa? soalnya kita sebagai researcher yang harus travel dan durasinya pun bisa sampai 6 jam kalo ditambah observasi ini itu. Tapi pengalaman home visit ini menyenangkan kok, karena bener bener melihat kondisi responden dari dekat. We really see them in their shoes, without pretence.

 

Sekian share saya tentang Metode Penelitian Kualitatif, untuk #RabuRiset selanjutnya saya bahas apa ya?

 

 

Over and out.

 

 

 

G

You may also like

2 Comments

  1. Saya paling pusing kalo buat penelitian wawancara Mbak Giftaa he he.. Tapi sebagian orang suka yaa kalo kualitatif..saya lebih dominan kuantitatif 😀 salaam kenal mbak Gifta

    1. Iyaa..memang sebagian suka kuali, sebagian suka kuanti. Saya yang masi belom menentukan pilihan nih 😃. Salam kenal juga mba Indi

Leave a Reply

Your email address will not be published.