Tag: review

Bersih-Bersih Bersama Heloklin

Beberapa minggu lalu cici F sempat kena batuk pilek tanpa demam. Setelah beberapa kali muntah padahal udah minum obat pengencer dahak, akhirnya saya bawa baby F ke dokter anak langganan. Ndilalah yang diresepkan adalah jenis obat alergi, dan baby F sembuh dengan obat itu. Batuk reda, batita kembali ceria.

Saya sempat penasaran kira-kira apa pencetusnya tapi ya saya ngga cari tahu lebih lanjut karena anaknya udah sembuh. (Mommy fail!) Lagian cici F emang punya riwayat alergi. Jadi ya udahlah ya, sampai suatu pagi cici F bangun dengan bentol-bentol kecil di sekitar jidat. Padahal malemnya masih mulus dan saya yakin ngga ada nyamuk karena saya (yang rentan banget digigit nyamuk) ngga kena gigitan apapun.

Dari situ saya mulai curiga, jangan jangan ini tungau atau dustmites. Dulu sempat baca di explore IG tentang tungau dan si makhluk mikroskopik ini makan kulit mati kita yang tercecer. Apakah tungau ini menggigit kita? Ternyata ngga, hanya saja kotoran dan kulit tungau yang terkelupas bisa menjadi pencetus alergi. Alerginya bisa dalam bentuk bentol-bentol, batuk atau kalau yang punya asma, bisa jadi trigger kambuhnya asma.

Continue reading “Bersih-Bersih Bersama Heloklin”

Eaten: Kupat Tahu Pojok Magelang

Eaten: Kupat Tahu Pojok Magelang

Melanjutkan seri RoadTrip Jawa Tengah, kali ini saya mau cerita tentang salah satu kuliner khas Magelang; Kupat Tahu. Sesuai dengan namanya, hidangan utama terdiri dari ketupat tahu goreng dan tauge rebus yang disiram sambal kacang.

Di Pulau Jawa, makanan yang disiram dengan sambal kacang memang beragam. Ada sate ayam saos kacang, lotek, ketoprak, gado-gado, tahu gimbal sampai kupat tahu. Tapi, tahu ngga sih kalo kupat tahu Magelang itu berbeda? At least berbeda dengan kupat tahu versi daerah Garut yang biasa saya makan.

Continue reading “Eaten: Kupat Tahu Pojok Magelang”

Wrapping Up 2017

Waw, sudah hari terakhir di 2017 nih. Tahun 2017 ini terasa begitu cepat, padahal kayaknya baru kemarin saya impulsively decide to do ODOP di awal 2017 dan terhenti di hari keempat ??.

Jika 2015 adalah tahun rollercoaster dimana kehidupan seperti berjalan fast forward dengan 2x normal speed, 2016 adalah tahun adaptasi, maka 2017 ini saya sebut sebagai tahunnya keluarga. Why? Karena tahun ini sudah mulai settling down  dalam kehidupan personal.

Continue reading “Wrapping Up 2017”