Tentang Penampilan

Salah satu nasihat (atau peribahasa?) yang paling naif menurut saya selain dari ‘jangan pilih-pilih teman’ adalah ‘don’t judge a book by its cover’ alias jangan lihat dari penampilannya saja. But sadly, we do judge people by their appearance. Saya pikir saya bukan orang yang judgmental, apalagi dengan prinsip ‘urusan lo yang ngga ngaruh ke gw, ya bukan urusan gw’ tapi ada saatnya saya menilai orang dari penampilan. Saat FGD atau ngeliat responden yang direkrut pas CLT misalnya, I do judge them based on their appearance. Sesederhana saya sangsi kalo si A ini beneran mid-upper class apa bukan dari dia pake tas merek apa, bajunya looks good on her atau ngga.

I don’t treat people differently due to their appearance, but I do perceive one or two things based on it. Yakali, pas ngemoderasi FGD dimana itu mixed middle-up atau middle-low, cara saya bertanya beda dari orang ke orang. Tapi saya pernah mendapatkan sikap yang berbeda when I do dress up dan ketika tampilan ngasal. Kapan? Biasanya saat belanja ke supermarket atau mall. Tampilan ngasal? Jangan harap dilayani sama mbak mas SPG/SPB, mau manggil pun harus celingak-celinguk berkali-kali. Tapi begitu, pake setelan kantor atau ya agak fancy lah dikit sambil dandan tipis, they flock in on us, “Ka, mau coba produk barunya?” Hayo, siapa yang punya pengalaman pernah digituin juga?

Belakangan juga sempet viral kan komentar juri di salah satu ajang pencarian bakat yang menyinggung penampilan si peserta audisi. Some would say it’s offensive, some would say it’s acceptable, but many would agree itu adalah skenario gimmick yang backlash ke jurinya. Buat saya pribadi sih, komentar tersebut emang nyelekit tapi bukannya kita juga suka begitu ya meski hanya dalam hati saja? Saya ngga mau komen panjang soal itu ah, males karena buat saya itu cuma gimmick semata. Tim kreatifnya pasti diomelin tuh karena bikin citra acara dan jurinya jadi jelek. Brand image pasti turun, meski brand awareness naik.

Sebagai seseorang yang ngga memperhatikan penampilan, isu ini memang agak menohok. It’s true how people perceive yourself based on your appearance. Karena yang pertama kali orang lihat kan penampilan kita, they wouldn’t know our capability, our position, our knowledge etc etc on the first glance. Tapi mereka bisa mengira-ngira siapa lawan bicara mereka lewat tampilan. Memang sih tampilan ini bukan hanya menyoal penampilan fisik, pembawaan pribadi juga dinilai. Karena ada yang meski penampilan fisiknya biasa aja atau very very casual, tapi pembawaannya udah ok mah ya semua juga segan.

Mana yang paling gampang di make over? Ya penampilan fisik lah. Memoles pembawaan butuh waktu lama, karena ya butuh jam terbang plus kepercayaan diri akan skill yang kita punya. Dan saat ini saya lagi kepikiran untuk memake over tampilan saya sendiri. Saya baru sadar kalo saya terlalu nyaman tampil kasual, wajah polos tanpa make up, berangkat ke kantor pun seadanya. Dengan pembawaan yang cukup pendiam dan wajah yang masih bisa nyaru jadi anak kuliah ini, membuat saya sering di underestimate, baik oleh vendor maupun partner korporat. Perasaan di underestimate ini kadang mengganggu dan bikin ga pede. Makanya saya mau boost percaya diri saya dengan make over.

Apa yang rencananya akan saya ganti? Hmm pertama sih mungkin mengeluarkan lagi tas tote bag. Selama ini saya biasanya pake sling bag, atau tas ransel yang bikin saya kerap kali ditanya kuliah dimana.

Yang kedua, pastikan outfit yang digunakan ngga overly casual kecuali kalo hari Jumat. Ya, gunakanlah blouse atau kemeja yang semi formal. Plus blazer yang tergantung manis juga bisa dipake lagi lah ya. Berhubung sedang hamil, butuh juga nih atasan maternity semi formal. Sudah beli satu sih, tapi masih kegedean di bagian lengan.

Yang ketiga, harus punya varian sepatu. Sepatu yang sering saya pake ke kantor hanya satu. Sepatu yang lain pake heels yang mana saya kurang nyaman pakenya (padahal cakep banget) atau malah sudah kesempitan. Hmm, saatnya berburu alas kaki lagi deh ini.

Yang keempat, biasakan skin care-an lagi. Plus make up tipis tipis biar ga disangka bocah dan ga dibilangin sakit karena terlihat pucat.

Yang keempat, adalah niat, tekad kuat dan disiplin supaya tampilan saya ke kantor ngga sekasual tampilan saya di pantai. Karena percayalah, saya bukan sekali dua kali menggunakan outfit yang sama sekaligus tas dan kerudungnya ke kantor. FYI, tas selempang itu jadi tas regular ke kantor pun. X_X.

Apakah ini akan berhasil?

Hopefully ya, nanti saya update lagi deh kelanjutannya.

Happy Mid-week,

3 thoughts on “Tentang Penampilan

  1. Saya juga menilai seseorang dari penampilan: pakaian, raut muka, sikap.
    Dan biasanya dari first impression itu, judgement saya tidak terlalu melenceng. Ya sekali dua kali salah menilai mah normal, kan kadang orang nunjukin penampilan yang fake. Hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.