Tentang Resign Setelah Punya Anak

Masa-masa setelah melahirkan adalah masa-masa awal berkenalan dan bonding dengan bayi mungil nan lucu (lucu karena kita orang tuanya kalo anak lain mah biasa aja kali ya). Buat ibu bekerja masa-masa cuti melahirkan selama 3 bulan, selain menyenangkan, melelahkan tapi juga biasanya masa-masa galau. Galau pengen resign karena dekat sama anak jadi salah satu poin penting di kehidupan, tapi takut kebutuhan finansial rumah tangga tidak terpenuhi.

I’ve been there. 2 bulan 3 minggu pertama dengan Baby F was the campur-aduk moment. Battling with baby blues, kebingungan menjadi ibu baru, senang punya anak, dan kepikiran pengen resign karena belum punya ART dan ngga mau jauh dari anak kalo baby F harus dititip di tempat mama saya. Tapi saat itu saya masih di tahap kepikiran dan keinginan aja sih. The last options that I would choose is resigning from my job.

Saya beberapa kali membaca posting mengenai akhirnya resign setelah punya anak. Sejujurnya saya salut, beneran salut, untuk ibu-ibu yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi Stay-at-Home Mom. It must be really challenging. Setelah bertahun-tahun kerja dan menjalani rutinitas kerja, lalu pada suatu titik hal itu berhenti dalam waktu yang lama atau selamanya.

Sampai sekarang sih saya belum pernah ditanya (terus menerus) kapan akan resign dan jadi stay-at-home Mom. Mungkin karena circle saya ya buibu bekerja. Ditanya sekali dua kali sih ya pernah, apalagi pas awal awal melahirkan. Tapi sampai sekarang saya belum punya keinginan dan alasan kuat untuk saya berhenti bekerja. Loh? Punya anak bukannya bisa jadi alasan buat berhenti kerja? Buat beberapa sih itu bisa jadi alasan ya, tapi saya ngga mau menjadikan berhenti demi anak sebagai major cause.
Akan banyak yang ngga setuju dengan saya menyoal tidak mau resign hanya untuk anak. Ya terserah sih, to each their own kan ya.

Kenapa saya ngga mau resign demi anak?

Well buat saya, perkataan resign demi anak menyiratkan bahwa kita mengorbankan sesuatu untuk si anak dengan berharap ada timbal balik. Konsep berkorban tanpa pamrih is something that I see as naive.

Mari kita fast forward ke beberapa tahun ke depan. Anak-anak tak selamanya menyenangkan, lucu, mudah diatur dan dinasehati. Akan ada masanya dia tantrum, menjengkelkan dan tidak mau mendengarkan kita sama sekali.

Sebagai manusia, kita akan kesal dan marah saat jengkel atau kecewa sama anak, apalagi dengan mindset bahwa kita sudah mengorbankan sesuatu untuk anak,  lalu terlontar lah kata-kata “Mama tuh berhenti kerja demi kamu. Kenapa kamu ngga mau dengerin Mama?”. Lalu anak kita bakal bengong dan merutuk dalam hatinya “Saya ngga pernah minta mama berhenti kerja, heck, I never even ask to be born”.

Dan saya tidak mau itu terjadi pada saya dan anak saya. I know myself quite well, and if pushed to the brink of emotion, the above sentences might come from my mouth.

Another reason why I think we don’t sacrifice things for children is because we choose to have them in the first place. Let’s remember the first time you know you would be a parent. When you decide to keep your pregnancy. Saat itu kamu sudah siap dengan segala konsekuensi dan kemungkinan kemungkinan mengenai anak. Sehingga apapun tindakan yang kamu lakukan untuk anak tidak bisa disebut pengorbanan. Setidaknya di mata saya. It’s not a sacrifice, it’s implication of something you choose.

Suatu saat anak akan membuat kita sakit kepala dengan berbagai tingkahnya dan setumpuk biaya yang harus kita keluarkan untuk anak. But isn’t it a consequences dari punya anak?

Resign demi anak memang terdengar seperti alasan mulia, tapi jika karena itu kita akan gampang meluapkan kekecewaan dan kemarahan pada anak, ya untuk apa juga kan?

I’m not encouraging moms to not quit their job ya, but I’m encouraging moms to think through on the reason they resign. Stop lah menjadikan orang lain sebagai alasan, karena itu akan membuat kita gampang menyalahkan orang lain ketika something distasteful happens.

Saya ngga tau kapan saya akan berhenti bekerja. Tapi saya tau, saya tidak akan menggunakan anak sebagai alasan berhenti bekerja. Jikalau saya berhenti bekerja, maka itu saya lakukan karena saya mau. Supaya jika ada hal yang tidak menyenangkan setelah saya berhenti bekerja, saya tidak punya alasan untuk menyalahkan orang lain.

 

Over and out

You may also like

4 Comments

  1. Sepakat mbak, jangan jadikan anak untuk alasan perbuatan/keputusan yang kita ambil. Saya juga kurang suka kalau ada yang bilang โ€œdemi beli susunya anak-anakโ€ jika ada teman yang โ€œterpaksaโ€ lembur saat weekend.

Leave a Reply

Your email address will not be published.