Health | Psoriasis

Living With Psoriasis: My Journey

June 18, 2019

Jika dihitung-hitung, lebih dari separuh usia saya sudah saya habiskan dengan si Psoriasis. Memang sih ketahuan secara resminya ketika saya sudah bekerja di Jakarta, tahun 2011 akhir. Tapi kalo diingat-ingat lagi sebetulnya psoriasisnya sudah mulai ada sejak saya SMP, usia 13 tahun-an sepertinya.

Saat itu, saya mengira psoriasis yang ada di kulit kepala adalah ketombe. Saat konsultasi ke dokter kulit di daerah Cipanas Puncak pun, dokter mengatakan bahwa itu ketombe, tapi diobati dengan shampoo apapun tetap ngga bisa sembuh. Karena bosan, ya sudahlah saya pasrah waktu itu. Saya hanya menyangka jenis ketombe saya adalah ketombe basah.

Dari kecil kulit saya memang sensitif, alergi dingin pula jadi sering gatel dan bentol-bentol. Bekas luka juga jadi banyak dan butuh waktu biar mulus lagi. Pas kuliah sebetulnya serangan pertama psoriasis di kulit muncul. Saat itu di lengan, areanya masih sedikit, saya biarkan dan 2-3 bulan hilang dengan sendirinya.

(Baca Juga: Apa Itu Psoriasis?)

Saat kuliah tingkat akhir muncul psoriasis di daerah punggung, masih didiamkan, siapa tahu hilang sendiri seperti sebelumnya. Areanya tetap sama hingga berbulan-bulan, sampai saya kerja di Jakarta lalu pelan-pelan mulai meluas. Awalnya punggung, lalu kulit kepala dan belakang telinga. Kulit yang mengelupas seperti ketombe, dan saya suka nakal menggaruk dan mengelupas kulitnya. Tapi saat itu masih cuek, hanya pakai lotion saja supaya ngga kering. Alarm buat ke dokter datang ketika serpihan kulit tiba-tiba dirubung semut. Eww banget lah saat itu saat melihat semut beriringan membawa serpihan kulit.

Dokter pertama yang ditemui adalah dokter kulit di RS Tria Dipa Jakarta Selatan. Penegakan diagnosa pun dilakukan dan saya mengidap psoriasis sedang. Sempat ditawarkan untuk dirujuk ke salah satu dokter di RSCM tapi karena masih tahap sedang saya memutuskan untuk diobati dulu saja. Obat yang pertama adalah Elocon. Saat dipakai, agak terasa perih tapi 2 -3 minggu psoriasis berangsur mengecil meski belum benar-benar hilang.

Dari tahun 2011 itu saya ngga pernah ke dokter lagi, hanya melakukan pengobatan sendiri dengan salep Elocon atau salep yang mengandung bethamethasone dan salicyl acid. Kadang mengecil tapi ngga pernah hilang sepenuhnya. Remisi saya dapatkan saat hamil anak pertama. Kulit bersih, mulus dan bebas gatal. Tiga bulan setelah melahirkan, psoriasis datang lagi di punggung dan tangan, tapi masih kecil-kecil.

Tahun 2017, saya berobat lagi karena gatalnya makin tak tertahan. Kali ini datang ke Erha, diagnosa masih sama, psoriasis lalu diresepkan salep racikan dan shampoo khusus. Sayangnya masih kurang membantu.

Saat hamil anak kedua di tahun 2018, titik psoriasis makin banyak dan melebar. Apalagi bagian punggung. Saya kira setelah melahirkan akan mereda, tapi malah menjadi periode psoriasis paling parah yang pernah saya alami. Semua anggota badan ada titik psoriasisnya.

Saya berkonsultasi ke 4 dokter. Dua dokter secara online dan dua dokter tatap muka langsung.

Dokter online pertama yang saya coba adalah dr Arthur dari dokterkulitku.com. Diagnosanya sama, saya diresepkan dengan resep racikan dan minyak racikan untuk kulit kepala. Kulit kepala berangsur membaik, namun psoriasis di badan masih belum oke. Saya kemudian bertemu dengan dokter kulit di RS Omni Pulomas yang langsung meresepkan salep Daivobet dan Lotion Ceramide. Sebetulnya perkembangan dengan Daivobet cukup baik sih, tapi masih ada peradangan, apalagi harganya juga mahal jadi ku tak sanggup beli terus-terusan. 1 tube daivobet hanya bisa untuk 5 – 7 hari karena memang lokasi psoriasis seluas itu.

Konsultasi ketiga adalah konsul online di Halodoc, diresepkan obat antihistamin dan salep kloderma. Salepnya lumayan ok, psoriasis menipis meski lebih lambat dari Daivobet. Tapi tetap saja saya masih belum merasa puas hingga saya ketemu dokter kulit saya yang sekarang, Dr Windy yang juga konsultan alergi dan immunologi di RSIA Tambak.

Saya diberi banyak informasi mengenai psoriasis oleh Dr Windy, pemeriksaan pun menyeluruh sehingga saya tahu bahwa saat ini saya mengidap psoriasis kategori berat. 16% dari permukaan tubuh terserang psoriasis. dr. Windy kemudian meresepkan obat Methotrexate untuk membantu menekan peradangan dan salep racikan.

Pengobatan ini saya lakukan dari akhir April, hasilnya lumayan menipis dan memang ada yang tinggal menunggu perataan warna kulit saja. Semoga saat kontrol akhir Juni ini permukaan tubuh yang terserang bisa turun ke 10%. Amiiiin.

See you on the next post,

Leave a Reply

Your email address will not be published.