Post Partum Depression
Personal Life | Post Partum

Post-Partum Frustation: The Beginning

February 7, 2019

14 Dec 18

When I write this, I still feel the hesitation and worry whether to write this story of not. I’m still thinking is it the right thing to do this? To record and publish what I experienced. Is it okay? Will it be like only a cry for attention, a memoar, or a valuable share? But then, I feel it’s better to write this up first, would it be published? I don’t know. Havent decide it yet. But it better to express all the emotion running havoc inside, than to have it cyrstalized and become silent disease that may affect me and my circle.

So, here we go.

Post Partum Depression

Perjalanan hamil dan melahirkan anak kedua memang lebih berwarna dari anak pertama. Hamil anak pertama bisa dibilang hamil kebo, hampir tanpa keluhan berarti dari sisi fisik. Dari sisi mental? Exhausting karena merasa dikejar-kejar dalam beradaptasi. Adaptasi punya suami, adaptasi seatap dengan in-laws. Tapi saat sedang mentally exhausted ini, saya masih punya pelarian. Pekerjaan.

Tantangan lain dimulai saat melahirkan, kontraksi via induksi yang kemudian gagal dan akhirnya kecewa karena SC padahal sudah sangat ingin normal. Hari-hari setelah punya bayi diisi dengan rutinitas itu-itu saja. Bangun, memandikan, menyusui, makan, ganti popok, menyusui, tidur on repeat. Tapi saat melahirkan anak pertama, saya masih merasa euforia baru punya anak. I think I enjoyed my first steps on motherhood. I bonded easily with my first born.

Then, come 2nd pregnancy. The not quite unplanned pregnancy with all the challenges. Secara fisik, kehamilan kedua ini memang penuh tantangan. Flek dan mual muntah yang cukup parah di trimester pertama, kurang zat besi dan kurang cairan ketuban di trimester ketiga, sampai melahirkan 5 minggu lebih awal dari HPL. Secara mental memang ada beberapa friksi yang biasanya saya let go karena ngga mau kesel sendiri tapi sekarang ngga bisa di let go begitu saja, plus ada semacam melankoli yang hadir di trimester ketiga.

Saat tahu harus melahirkan 5 minggu lebih awal dan hanya 7 jam lagi, saya menangis. Bilang sama suami sih karena saya pengen nangis aja. Saya ngga tau pasti kenapa saya nangis waktu itu. Rasanya hanya down saja, mellow. Semacam merasa gagal mempertahankan baby kiwi setidaknya 2 minggu lagi, mixed with feeling scared apakah bisa mengasuh bayi prematur, dan teringat cici F dan segala kegalauan mengenai anak pertama.

Pulih dari SC yang kedua ini cukup lama. Butuh waktu beberapa hari agar saya bisa tidur miring dengan enak. Bagaimana dengan si bayi? Well, karakteristik bayi prematur yang lebih sering terlelap, susah latch on dan ASI yang belum keluar akhirnya membuat saya memilih formula buat Fath untuk asupan gizi. Saya pumping, dan meminumkan ASI via dot. Tapi produksi pumping tidak mencukupi, selalu kekurangan. Jadi supplementasi dengan formula.

Minggu-minggu awal Fath di rumah, saya terbantu dengan pengasuh Fay yang juga ikut mengurus Fath dan saya. I feel quite rested. Ipar saya juga sempat membantu mengasuh dan bahkan pernah memandikan Fay juga. With the well-oiled support system, I thought that I will be free from baby blues. Turns out it hit harder than the first.

Saat Fay lahir, saya memang terkena mild baby blues. The culprit is my inability to forgive myself for failing my own expectation. Baby blues hadir saat saya gagal melahirkan dengan normal dalam bentuk kesedihan dan sesak nafas. Baby blues juga datang saat saya hanya bisa menyusui Fay sampai 3 bulan saja. Baby blues datang saat saya merasa kecapaian dan bosan hanya di rumah. Baby blues ini ngga lama, saya mellow, sedih lalu berdamai dengan diri sendiri dan ceria lagi.

Saat Fath lahir, saya merasa biasa-biasa saja. Apakah saya senang saya punya anak lagi? Biasa saja. Do I feel mom-foria yang saya rasakan saat melahirkan Fay? Ngga. Everything feel so-so or maybe I am just that unable to feel happy. Lima minggu pertama dalam hidup Fath, saya jarang menggendong atau memeluk dia. Fath tidak (atau memang belum bisa) protes. Fortunately, he’s not a fussy baby. Jadi ya dia anteng-anteng aja di box bayi. Nevertheless, I still think that this is some kind of abandonment.

Baby blues hit me hard by attacking my ability to stay calm. I even coined it as post partum frustation. Because it is exceed my expectation on what baby blues bring.

Mengurus bayi baru lahir dan masih tetap mengasuh si sulung menjadi tantangan super berat. Padahal saya mengasuh kombo begitu hanya diatas jam 8 malam hingga 9 pagi. Fath memang tidak terlalu sering bangun, biasanya hanya 3 kali (Jam 11 malam , Jam 1 dan Jam 4 subuh) dan cukup diberi susu. Tapi Fay bisa baru terlelap di jam 1 malam.

Fay yang memang baru berusia 2 tahun senang bereksplorasi dan menguji kesabaran ibunya. Akhir-akhir ini juga jadi lebih agresif, sering memukul. Belum lagi permintaan Fay yang sering aneh-aneh ingin ina-ini-itu, apalagi kalo Fay siang-siang berantem karena berebut mainan dengan sepupu-sepupunya. Saya jadi sering membentak-bentak Fay.

Saya jadi lebih sensitif, dan gampang merasa kesal, lalu marah dan dipendam sendiri. Saya kesal ketika L tidak langsung menghampiri anak-anak ketika dia baru pulang kerja, saya kesal ketika Fay rewel dan tidak mau tidur, saya kesal ketika ada yang humble brag atau bersikap tidak konsisten, saya kesal ketika Fay dibanding-bandingkan, I feel mad but I still have to put on the poker face when all I want is to scream.

Saya semakin introvert, saya tidak banyak ngobrol dengan L karena merasa hal yang akan saya keluhkan adalah same old story. Sampai sekarang pun, ketika baby blues mulai mereda, L tetap menilai saya seorang yang negatif. Can’t look at the positive side, he said. Padahal, I do appreciate the positivity, I’m not turning a blind eye into the light. But the negative points sometimes become overwhelming I become apathetic instead.

Saya kemudian mencoba menulis, sekedar sarana mengekspresikan apa yang berkecamuk di kepala. Hingga satu malam semuanya terasa begitu tak tertahankan. I blew up. To my eldest. I screamed at her for the little things that usually doesn’t bother me. But on that night, I screamed at her, force fed her bite of chocolate she asked, and she’s just effing two years old. That night, she went to sleep with tears on her eyes. I went to bed with shame and regret.

I wake up the next day with the same regret, my mind still made up images of me hurting the kids. Doubled my anxiety, lower my confidence to be a good mom. And that’s it. I decide to raise a white flag and seek active help. Reading tips on overcoming baby blues is not enough. So I talk to psychologist. Thank God for technology. I do the counselling online.

Setelah menceritakan semuanya, beban terasa sedikit ringan. But as they said, it’s like two steps forward and one step back. Setiap merasa sudah baikan, selalu saja ada stressor yang tak ter-manage dengan baik sehingga rasanya seperti digressing myself.

Lalu gimana dengan konselingnya? Nanti saya ceritakan di post selanjutnya ya. Ini sudah cukup panjang soalnya.

For you, moms out there who’s suffering like me, stay strong moms, you’re not alone.

And for you, my children, my precious, just in case in the future you stumble on this writing, forgive me for being mean to you, and for the record, I don’t regret having you, both of you.

Love,

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published.