Sebuah Kejutan

Jakarta, 2 Mei 2020.

Apa kriteria sebuah kejutan? Tentu salah satunya adalah tidak terduga. Unexpected. Kejutan terbaru dalam hidup saya, saya alami seminggu lalu. Dua minggu terakhir di bulan April, badan saya rasanya greges. Ngga enak. Seperti yang dirasakan beberapa saat sebelum sakit. Diagnosa sendiri dan saya kira, ya paling cuma masuk angin. Lalu minta dikerik dan minum teh hangat. Sehari dua hari merasa enakan, tapi kok rasa ga enak badan ngga ilang-ilang.

Akhirnya ketika menstruasi tak kunjung tiba padahal biasanya datang tepat waktu atau lebih cepat, saya memutuskan untuk menggunakan test pack. I hate being stuck in a limbo. Makanya meski baru telat 2 hari saya langsung tes, dan saya menemukan 2 garis di stik uji. Garis yang kedua memang masih agak samar tapi serangan mual muntah sudah mulai terasa. Dua hari berikutnya saya tes ulang, dan kini garisnya sudah sangat terang.

Begitu melihat 2 garis merah, perasaan saya campur aduk. Bukan hanya karena ini kehamilan yang tidak direncanakan, tapi hingga 14 Maret, saya masih mengkonsumsi MTX alias methotrexate. Obat yang tidak boleh digunakan saat hamil atau mencoba hamil karena memiliki resiko yang besar.

Saya kemudian berburu jurnal kesehatan. Membaca mengenai pengaruh methotrexate dan kehamilan. Dengan sampel yang terlalu kecil, dan hasil akhir yang bervariasi, agak sulit jadinya mengambil kesimpulan. Ada beberapa yang menunjukkan bahwa konsumsi MTX di waktu kehamilan kurang dari 8 minggu, bayinya lahir tanpa cela. Tapi sample yang dirujuk terlalu kecil.

Tepat satu minggu setelah saya menyadari bahwa ada benih kehidupan baru di rahim saya, saya putuskan untuk ke dokter. Kram dan nyeri perut bawah sudah konstan saya rasakan 5 hari terakhir.

Saya disambut dokter kandungan dengan serentetan penjelasan resiko yang mungkin muncul. Resiko yang sudah saya ketahui dari pertama membaca hasil uji kehamilan, tapi tetap nyess rasanya ketika yang ahli yang memberitakan. Lalu USG transvaginal, ada kantong kehamilan, tapi ukurannya kecil.

Saya lalu diminta untuk tes beta HCG, Sabtu ini dan Senin nanti untuk mengetahui bagaimana progress kehamilan ini. Ada 3 kemungkinan, kehamilan hingga saat ini berjalan lancar, kehamilan ektopik alias kehamilan di luar rahim, atau justru kehamilan tidak berkembang. My gut tell me that it’s not ectopic, apalagi tadi dokter Liva pun sangsi jika kantong hamil ada di luar kandungan.

Deg-degan menunggu hasil test hari senin. Whatever it is, I hope for the best.

4 Mei 2020

Got the result, HCG level is good. Increased more than 2 times in 2 days. Karena hasil HCG yang tinggi dan meningkat, saya akhirnya kembali USG Transvaginal. Ada 3 hal yang saya ingat menjadi diagnosa dr. Liva, kadar HCG normal dan meningkat sehingga memang dinyatakan ada kehamilan, kantong kehamilan terdeteksi dan bukan kehamilan ektopik, dan ada kista luteus di sisi kiri.

Tapi kantong kehamilan yang terlihat kecil, ukurannya hanya 1.13 cm. Ini yang menjadi concern dokter. Kans keguguran dan birth defect masih ada apalagi ada blood clot juga di rahim dekat kantong kehamilan.

Menurut dr. Liva, blood clot ini bisa jadi terbentuk karena konsumsi MTX. And I pray that it is the extent of MTX effect. Only blood clot.

Saya diresepkan penguat kandungan dan obat untuk keputihan, tentu saja konsumsi asam folat 5mg tetap dilanjutkan. Penguat kandungan diresepkan untuk memperkecil resiko keguguran, dan asam folat masih harus dikonsumsi untuk menangkal efek MTX.

Saya pun harus kontrol satu minggu lagi untuk melihat perkembangan janin. Pun diwanti-wanti untuk segera kontrol jika terjadi pendarahan atau sakit perut hebat.

Berbicara mengenai biaya, untuk periksa kehamilan dan USG saya membayar sekitar Rp 565.000-645.000, sedangkan biaya untuk 1 kali tes beta HCG adalah sebesar Rp 748.000.

11 Mei 2020

Satu minggu berlalu dan saya melakukan konsultasi kembali dengan Dokter Liva. Begitu masuk saya mengeluh bahwa kehamilan kali ini mualnya parah banget, mual sepanjang hari, dan saya cuma bisa vertikal untuk menekan rasa mual. Celana yang saya gunakan juga mulai tak nyaman, padahal perubahan lingkar perut biasanya saya rasakan di TM kedua.

Tapi suster dan dr. Liva malah merespons baik mual mual saya ini. Berarti kehamilannya berprogress katanya. Awalnya saya akan melakukan USG abdominal, saya udah seneng karena artinya ngga usah buka celana dan diobok-obok di dalem lagi. Ealah, dede bayinya masih belum terlalu kelihatan di abdominal jadilah saya masih harus melakukan USG transvaginal.

Alhamdulillah, kantung janin membesar dan janin sudah terlihat. Detak jantungnya pun terdeteksi di 121bpm. Sebuah tanda yang bagus jika janin bisa bertahan.

Saya kira setelah melihat kondisi kantung dan janin, Dr. Liva akan mengakhiri sesi USG. Tapi ternyata dokternya masih nguprek hingga akhirnya menemukan satu janin lagi di sudut yang berseberangan. WOW! Hamil kembar. Saya dan L kaget, and what I blurted first to L is “hmm dari siapa loh?” mengingat kan katanya dapet anak kembar itu turunan.

The twin, yang keliatan belakangan, ternyata memiliki ukuran yang sama tapi detak jantungnya masih hanya 109bpm. Agak mengkhawatirkan kansnya karena dibawah 120bpm.

Saya kemudian diresepkan macam-macam oleh dr Liva, suplemen DHA, penambah darah, antioksidan, penguat kandungan dan asam folat sampai 100 butir untuk konsumsi 20 hari.

Kenapa sampai sebegitunya? Pertama kehamilan saya high risk karena ada riwayat konsumsi MTX, meski terakhir konsumsi memang di rentang preconception – 2 weeks. Tapi tetap saja ini membuat kehamilan saya harus dipantau dan harus screening di 12 minggu untuk melihat kelengkapan organ tubuh janin dan tanda tanda lainnya.

Kedua, kehamilan kembar memang masuk kategori high risk, apalagi dokter Liva memang belum menemukan sekat antara twins, jadi belum ketahuan apakah bayi kami hanya berbagi plasenta saja, atau juga berbagi kantung kehamilan. Dokter mengeliminasi kemungkinan kembar dengan dua kantung rahim karena kalo ada 2 kantung rahim pasti sudah terlihat jelas, pun eliminasi kemungkinan kembar siam karena jarak janinnya aja sudah jauh-jauhan. Saya sih berharap jika bayi kami hanya berbagi plasenta saja, supaya memperkecil resiko yang lain.

Dokter Liva sebetulnya sudah agak curiga kehamilan kembar begitu melihat kadar HCG saya yang tinggi tapi kantung kehamilan kecil. Tapi pas kontrol minggu lalu itu kan, si twin belum terlihat sama sekali meski sudah dicari berulang. Jadi hipotesa itu disimpan selain untuk menjaga ekspektasi juga supaya saya ngga panik.

Dua minggu lagi, saya akan cek lagi ke dokter Liva untuk melihat pertumbuhan janin. Let’s hope for the best.

7 Juni 2020

Pada 26 Mei lalu, saya kembali ke Rumah Sakit untuk melakukan cek darah. Kali ini ada beberapa hal yang diperiksa, darah lengkap, ferritin, vit D 25 OH dan agregasi trombosit. Hasilnya? Jika diibaratkan hasil tes darah saya adalah raport akhir semester, maka sudah pasti raport saya kebakaran. Banyak sekali yang dibawah nilai rujukan. HB saya hanya 6, angka yang menbuat saya langsung ditelpon Lab untuk segera periksa ke dokter meski pada akhirnya dr Liva menyatakan gapapa jika diundur keesokan harinya setelah hasil tes darah keluar semua.

Tanggal 27 Mei, saya kontrol ke dokter Liva, the twins grows. Heartbeatnya sudah normal untuk keduanya, tapi dokter belum menemukan sekat. Asalnya mau di USG transvaginal lagi karena saya sempat mengeluhkan kalo saya ngga bisa liat dedek dengan jelas, but then dokternya bisa, dan saya ngga mau diubek ubek lagi via bawah. Dokter Liva mencoba untuk memfoto the twins dalam satu frame, tapi ternyata kejauhan. Sampai tanggal 27 Mei ini, dr. Liva masih belum menemukan sekat antara twinnies.

Sebelum pulang, saya infus venofer dulu. Kali ini tidak di UGD, tapi ikut di kamar periksa dokter. Lumayan lama juga prosesnya, apalagi pembuluh darah saya yang tipis tipis, menyulitkan dokter untuk memasang infus, akhirnya memanggil suster UGD yang dianggap lebih ahli dalam tusuk menusuk.

Untuk periksa dan infus venofer kali ini saya membayar Rp. 920.400.

17 Juni 2020

Seharusnya saya melakukan kunjungan ke dokter lagi akhir Juni ini. Namun seminggu lalu, saya sempat ngga bisa makan. Mual muntah mendera begitu hebat. Setiap ada asupan makanan selalu keluar lagi. Ondasentron yang diresepkan tidak bisa meredam mual. Jurus berbaring vertikal tidak lagi menahan rasa mual yang sampai kerongkongan. Ngemut permen mint juga ngga ampuh.

Akhirnya saya memutuskan untuk ke dokter saja, sekiranya harus diinfus karena makanan ngga bisa masuk pun ya saya pasrah. Saat USG the twins grows well, dan dokter sudah menemukan sekat. Horee.

Saya kemudian diminta untuk melakukan pemeriksaan dengan dokter fetomaternal, untuk memastikan lebih lanjut keadaan twins. Lagi-lagi saya diminta untuk banyak makan dan konsumsi daging-dagingan agar asupan makanan lancar ke twins.

Sebelum pulang, tentu saja saya lagi lagi diinfus zat besi dan diberikan injeksi obat mual. Hamdalah mual langsung hilang. Saya pun diberikan obat racikan untuk menekan rasa mual. Obat yang ini syukurlah ampuh disaya.

Next time saya akan cerita pengalaman di fetomaternal ya. Twins, grows well!

Love,

Leave a Reply

Your email address will not be published.