When you know, you know

L beberapa hari lalu menanyakan kenapa pada akhirnya saya mau menikah dan menikah dengan dia.
Beberapa waktu lalu, saat hubungan kami sedang mengalami turbulensi hebat dan sempat mendarat darurat, saya memang pernah berpikir bahwa menikah bukan prioritas dan urusan jodoh tersimpan di pojok belakang otak.

Ndilalah, pemikiran tersebut tidak bertahan lama. Ketika L datang lagi, it only takes me one month and 1523 km being apart instead of separated by usual distance (elah, kebagusan-kemayoran kan ga jauh, G), saya merasa yakin untuk menjatuhkan hati dan janji untuknya. Selamanya.

Read more