Bahasa Kode

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah posting yang muncul di feeds Facebook. Bercerita tentang seorang istri yang ngambek karena suaminya lupa jadwal pengecekan IUD. Ngambek sampai merajuk ala ala sinetron.

Komentar yang ada di postingan tersebut didominasi oleh kaum hawa yang mengiyakan ke-drama-an mereka. Kayaknya hanya beberapa yang sama dengan saya dan berujar “Saya gak gitu, kok!”

Bahasa kode yang digunakan perempuan ini mungkin saja berasal dari kebiasaan masa lalu, dimana perempuan kan selalu dikisahkan (atau dikondisikan) sebagai makhluk yang pasif dan restriktif. Saya malah pernah baca bahwa kadang diamnya perempuan adalah iya. Jadi kalo ngelamar dan si perempuannya diam, itu udah tanda diterima. Padahal siapa tau ya kan, diam tanda ngga mau.

Komunikasi perempuan konon sangat njelimet sampai majalah gaya hidup biasanya mengangkat artikel tentang how to decode what women speak. Meme soal ‘terserah’ perempuan juga sangat banyak kan ya? Then I come to a thought bahwa bahasa kode digunakan perempuan sampai saat ini karena kode is a norm. Jadi seperti stereotip atau one self-fulfilled prophecy, karena saya perempuan maka saya berbicara dengan kode!

Saking penasarannya, saya sempat google soal ini. Tapi belum ada sumber yang menerangkan dengan jelas why we love to talks in code-speak. Studi soal bagaimana perempuan dan laki laki bicara sih banyak.

There’s this thing about Gender Language differences. Tapi lebih ke ekpresi apa yang lebih banyak digunakan laki-laki (contohnya: pake referensi angka, kalimat yang pendek-pendek, kalimat perintah) dan apa yang lebih banyak digunakan perempuan (contoh: referensi emosional, kalimat yang lebih panjang).

Iya sih, women do seeking emotional relation when in conversation. We crave for that deep, intense, meaningful convo. But it’s not code -speak.

Gimana mau ngobrol yang dalem dan menggugah perasaan kalo masih kode-kodean kan?

(Baca juga: Yakin Mau Resign?)

Saya dulu pun pernah jago banget bahasa kode ini. Mau A tapi bilang B. Tapi ngga dimengerti, lalu saya marah -marah sendiri.

Hingga suatu saat, teman saya yang kebetulan lelaki berkata bahwa kebanyakan pria ngga bisa decode kode perempuan seketika, karena mereka makhluk literal. Pelajaran majas di Bahasa Indonesia saja bisa membuat mereka pusing setengah mati, lantas kenapa ini para perempuan suka sekali jadi passive aggresive dengan kode suka suka?

Sejak saat itu, saya mencoba berubah jadi literal juga. Ngga pake kode. I say what I want.

Hasilnya? Nih saya jembreng di bawah:

  • Hidup lebih damai karena minim pertengkaran dan drama.
  • Skill planning dan compromise meningkat, karena semakin sering negosiasi sama suami untuk menciptakan win win solution.
  • Ngga perlu pusing untuk menebak-nebak. Cukup lah analisa dilakukan saat di kantor ngga usah analisa bahasa juga.
  • Lebih mengenali diri sendiri, karena kadang kita suka ngga sadar bahwa sama diri sendiri pun suka ngasi kode. Dengan membiasakan hidup tanpa kode, we know ourselves, what we want, and what we don’t want better.

Nah, sekarang gimana caranya bicara tanpa kode ke suami? Ya utarakan langsung keinginan atau ketidaksukaanmu. Contohnya, mau ke dokter dan pengen dianter? Lock waktu pasangan 3 – 7 hari sebelum ke dokter, lalu ingatkan lagi di H-1 dan H-12 jam. Suaminya pelupa banget banget? H-3 jam telpon atau chat soal janji temu dokter.

Apakah dengan begini semua keinginan akan terkabul? Ya, ngga dijamin! Karena kan bisa jadi apa yang kita inginkan ngga bisa dipenuhi suami. That’s why ada kompromi atau plan b.

Dengan kasus yang sama, saat pasangan ngga bisa anter ada dua hal yang bisa dilakukan; re-schedule ke dokter, cari waktu yang memang si suami luang atau kalo si appointment ngga bisa diubah, ya pergi sendiri. Terus anak-anak gimana? Masa diboyong sendirian? Bisa minta anter temen atau keluarga.

(Baca juga: Rahasia Keluarga Bahagia)

Meski sekarang udah berhasil nih bicara tanpa kode, bukan berarti bisa ngomong langsung tanpa strategi. Ini nih yang harus diperhatikan;

  • Timing, perhatikan waktu yang kira-kira pas untuk menyampaikan request. Hindari setelah pulang kerja, sebelum tidur dan sesaat setelah bangun tidur.
  • Mood suami, cari situasi dimana air muka suami ngga kelihatan kusut. Pas dia riang gembira biasanya request kita lebih gampang disetujui.
  • Jangan berulang-ulang dalam satu waktu. Yes, I know penegasan memang penting, tapi ngga tiap 5 menit sekali juga minta hal yang sama. Itu mah namanya ngajak berantem.

Nah, Ladies yuk berhenti bicara bahasa kode. Saat kamu jadi IT developer pun, jangan pakai bahasa kode juga di dunia nyata.

Love,

You may also like

1 Comment

  1. Kayaknya di fase awal pernikahan aku juga sering kode-kode-haus-perhatian gitu deh hahaha.

    Sekarang mah udah 15 tahun nikah dan udah lelah mainan kode.

    Mungkin emang ada fase-nya kali yah, kedekatan emosional ngaruh juga. Sekarang sih gak usah di-kode-in apa pun suami udah paham bahasa kalbu-ku muahahahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published.