What would you do when you are on the edge of sanity? Would you plunge into insanity with eyes wide open, or would you seek something to keep you afloat?

Baby Blues

q
If it asked years ago, I would just ride the insanity wave. Doing something I know best. My work. Have something troubling? I just do my work. Have something I can’t cope with? Eh, I just pour everything into my work.

Tapi kali ini, saya memutuskan melakukan hal yang berbeda. Saya mencari bantuan. Melahap lebih banyak lagi artikel dan referensi tentang baby blues dan post partum. Melakukan tips yang katanya bisa membantu baby blues. Sayangnya, semua tidak berhasil. I am just that unable to feel happy. To feel content. Emosi saya cuma punya 2 arah kompas, sedih dan marah.

Awalnya, saya sempat denial jika saya butuh bantuan. Saya sempat merasa bahwa yang saya alami itu receh banget, bahwa orang akan menganggap saya berlebihan atau malah kurang iman dan kurang bersyukur. Atau bisa jadi menganggap saya cari perhatian saja, toh banyak yang mengalami baby blues lebih lama dari saya yang waktu itu baru 6 minggu saja. Heck, untuk mempublish rangkaian post ini saja saya masih takut-takut. Tapi, my logic wins. Dari apa yang saya baca plus sisa-sisa kewarasan yang ada, saya memang harus menghubungi ahli. Sebelum kenapa-kenapa.

Saya kemudian memilih konsultasi dengan psikolog, tapi secara online. Karena kalo keluar rumah, rasanya kok males sekali, padahal di rumah juga suka uring-uringan dan kena cabin fever. Saya cari-cari penyedia jasa layanan konseling online, ada beberapa, lalu pilihan dijatuhkan ke riliv.

Di riliv saya dihubungkan dengan psikolog bernama Jane. Sesi pertama kami dihabiskan dengan ekplorasi. Jane banyak bertanya tentang apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan. Rasanya saya seperti responden yang sedang diwawancarai secara mendalam. Saya dipaksa untuk menelaah lebih jauh apa yang saya rasakan. Bukan sekadar apa yang terjadi dan apa yang saya pikirkan.

Konseling demi konseling saya lakukan, tips dari  Jane pun saya coba. I feel better. Most days. Tapi ada hari dimana rasanya apa yang saya usahakan sia sia. Dimana saya kembali terjerembab ke lubang emosi. Lalu saya menyadari bahwa mungkin perjalanannya harus seperti ini. It’s like one step forward and two steps back. Tapi, progress is progress, ya kan?

Selain konseling, saya juga menceritakan kondisi ini kepada suami saya. Yang sepertinya hingga detik ini dia belum benar benar memahami soal baby blues. Tapi dengan dukungannya tentang konseling saya, dan kesediaannya mendengarkan, itu sudah cukup bagi saya.

Setelah mulai konseling, saya cerita ke ibu saya dan few of my friends. They supported me. In their own way. Ada yang selalu menyediakan waktu untuk membaca curhatan saya yang sebetulnya itu-itu saja. Ada yang menjadi pendistraksi dengan mengajak saya bercanda. Dan yang benar-benar saya syukuri adalah no one said kalo baby blues ini karena kurang iman.

Pertolongan itu juga muncul dari the ART’s yang mau membantu mengurus anak-anak. Tidak merasa gak enak ketika saya mau quality time dengan anak-anak saya, but ready to take over ketika emosi saya sedang tidak bersahabat.

Mengatasi Baby Blues

Apa yang membantu? Buat saya ada beberapa hal, pertama; acknowledge it. Saya mengakui, terlebih kepada diri saya sendiri, bahwa saya sedang ada apa-apa. Bahwa saya sedang tidak baik-baik saja. Setelah itu, saya mencari bantuan dan saya bicara. Saya membicarakan masalah ini kepada orang yang saya percaya, kepada yang saya yakin bisa membantu saya.

Sebetulnya konseling saja ngga cukup, hanya memuntahkan perasaan saja memang membantu, tapi tidak cukup. Selanjutnya adalah do what the expert says. Praktikkan sarannya. Sayang juga kan kalo kita sudah hire jasa yang ahli, tapi sarannya ngga kita lakukan.

Lalu yang juga membantu saya adalah mengidentifikasi apa yang membuat saya tidak merasa sedih lalu mensyukurinya. Sulit memang pada awalnya, tapi nanti juga terbiasa dan kita bisa naik kelas ke mengidentifikasi apa yang membuat kita bahagia. During this phase I celebrate every little things that brings positive or neutral vibes.

Yang paling penting adalah mengidentifikasi dan menghindari trigger stress. Dalam kasus saya, trigger besarnya sudah teridentikasi dan demi kenyamanan bersama mari tidak diungkap disini, trigger kecilnya adalah kelelahan dan kebosanan. Jika sudah lelah, ya istirahat, jika bosan ya saya segera cari apa yang sekiranya tidak membosankan.

Lalu, apakah saya sudah terbebas dari baby blues ini? Berdasarkan pembicaraan dengan psikolog dan dokter kandungan, sekarang saya sudah bisa dibilang step out dari baby blues. Tapi ya tetap on going process sih.

Konseling Riliv

Menurut saya, pengobatan mental prosesnya lebih lama karena mungkin mirip-mirip penyakit kronis. Maafkan jika perumpamaan ini tidak sesuai ya.

See you on another (hopefully) happier post.

Bagian pertama cerita ini bisa dibaca di sini Post Partum Frustation: The Beginning

Leave a Reply

Your email address will not be published.