SabtuBuku: Sabtu Bersama Bapak

image

Untuk seri pertama Sabtu Buku ini, saya ingin mengulas Sabtu Bersama Bapak-nya Adhitya Mulya. Buku ini bukan buku baru, malah sudah ke cetakan sekian belas tapi masih jadi top 10 best sellers di beberapa cabang Gramedia.

Sebelum mengulas lebih jauh, jujur saja, semenjak hebohnya teen-lit/chic lit lalu diserang buku buku yang influenced by Korean style saya agak skeptis dengan buku buku lokal. Jalan cerita yang hampir sama dan gampang ditebak membuat saya jarang membeli buku lokal.

Penulis Indonesia yang karyanya saya pantengin dan biasanya saya bela belain beli, bukan minjem bukunya itu cuma Dee Lestari, Ika Natassa, Adhitya Mulya, dan Christian Simamora meski yang terakhir ini saya suka turn off duluan liat design cover yang terlalu harlequin-ish. Oh iya, satu lagi. Ninit Yunita.

On to the book, Sabtu Bersama Bapak ini mengisahkan tentang upaya seorang Bapak untuk mempertahankan kehadirannya and impart his wisdom and values to his children saat dia ngga bisa mendampingi anak-anaknya lagi.
Caranya? Bukan dengan cara ketemu lewat mimpi atau manggil roh si bapak (ya kali ini buku genre horor), tapi bapak mempersiapkannya melalui rekaman-rekaman video.

Rekaman video tersebut menyinggung banyak hal, pentingnya perencanaan, leadership in the family karena 2 anaknya lelaki semua, lalu pentingnya dapet nilai bagus di sekolah, parenting issue sampe marital issue.  Sekilas tampak serius dan dramaa sekali ya? Tapi ngga kok, Adhitya Mulya punya racikan pas antara humor dan drama.

Selain tokoh Bapak (Gunawan Garnida) yang digambarkan sangat bijaksana dan nyaris tanpa cela, ada Ibu Itje yang mandiri dan sabar, Satya Garnida, si sulung yang tampan tapi temperamental dan Cakra Garnida si bungsu yang sukses dalam karier tapi tiarap dalam asmara.  Ada juga Rissa, istri Satya dan ehm…calon istri Cakra yang kalo saya state disini nanti malah jadi spoiler.

Untuk saya, di tengah kondisi masyarakat kita yang patrialis dimana lelaki selalu benar etc etc. Buku ini sangat sangat menghargai perempuan tanpa ‘merendahkan’ lelaki. Biasanya kan kalo perempuan superpower, lelaki either digambarkan lemah tak berdaya atau semacam bajingan, sebaliknya jika lelaki sangat baik bersahaja, perempuan digambarkan sebagai damsel in distress yang ga bisa apa-apa.

The gender equality is strong here. Perempuan dideskripsikan sebagai seorang mandiri, tegar tapi tetap lembut dan lelaki digambarkan sebagai pemimpin yang thoughtful, wise dan senang introspeksi.

Banyak sekali kata kata menyentuh yang “quote-able”. Tapi yang jadi favorit saya adalah quote dibawah ini, ini mengingatkan saya tentang kewajiban saya sebagai istri dan menyentil suami tentang kewajiban dia sebagai pemimpin saya dan calon buah hati kami nanti.

image

Pokoknya buku ini penting dibaca apalagi buat kamu yang sedang merencanakan membangun keluarga atau baru membangun keluarga. Banyak hal yang bisa kita petik dari buku yang dikemas dengan ringan dan cenderung komedik ini.
Saya pun meminta suami saya membaca buku ini, tapi sayang belum sempat juga dia baca. Mungkin nanti ketika filmnya sudah rilis, saya akan memaksanya untuk nonton.

On the side note, nama Garnida tidak asing lagi buat saya karena sudah pernah muncul di buku Adhitya Mulya yang saya baca 10 tahun yang lalu, Gege Mengejar Cinta. Kekira apa hubungan Geladi Garnida dengan keluarga Gunawan Garnida ini ya? Can’t wait to find out.

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.