After Married, Personal Life

Aloha, November!

Hmm, sudah beberapa bulan terakhir dari last posting. Baru tergerak kembali untuk menulis disini setelah melihat tagihan renewal hosting :D. (BRB nyapuin debu di pojok rumah online ini) 

Memang harus diakui, ada kesibukan baru yang muncul pasca kelahiran twinnies F. Pas masuk kantor setelah cuti lahiran pun, pekerjaan langsung datang berturut-turut layaknya kereta api dengan rangkaian gerbong yang panjang. 


Walhasil dari Februari sampai sekarang, saya seperti sedang lari maraton tanpa henti. Ngga ada motivasi dan keinginan untuk menulis blog sama sekali. Seperti biasa, mari kita review dulu dari dua sisi ya.

Memiliki 4 anak dengan jarak dekat memang membuat perasaan jadi nano-nano. I won’t tell you the rainbow without showing you the cloud of rain. 

Di rumah sudah mirip daycare dengan 2 bayi, 1 anak usia 3 tahun, dan 1 anak usia 5 tahun 6 bulan. Kalo sedang rewel 4-4nya pusing semua.

Untungnya, si sulung sudah mulai mandiri, bisa mandi sendiri dan kadang mau makan sendiri. Saat belajar daring pun, adakalanya cukup dipantau saja. 

Cah lanang satu-satunya sedang toilet training. Latihan sedikit-sedikit supaya bisa segera lepas pampers. Biar ibunya bisa makin irit ya kan. 

Biaya susu+pampers anak–anak cukup mendominasi pengeluaran. Belum biaya vaksin dan pemeriksaan ini-itu. 
Yup, pemeriksaan. Setelah lahir, Twinnies harus menjalani segenap pemeriksaan karena ada kecenderungan tertentu yang belum akan kutulis disini. Tes yang dijalani twinnies akan kupost nanti ya, draftnya sudah ada kok. Selain itu, twinnies juga mengikuti fisioterapi untuk mengoptimalkan perkembangannya. 

Punya anak dengan jarak dekat itu di satu sisi repot, pulang ke rumah orang tua saya saja yang hanya 2 malam, we bring so many things, layaknya menginap seminggu. Goodbye packing ringkes cuma dengan backpack. Kini si tas beranak pinak. 
Tapi satu sisi lain, anak-anak jadi punya teman main. Lumayan saat pagebluk dan ga bisa kemana-mana, anak-anak jadi ada temennya. 
Dan rasanya cape dan keruwetan karena pekerjaan jadi berkurang begitu masuk rumah dan mendengar mereka berteriak “Mama”.

Secara personal, saya kadang merasa cukup kewalahan menyeimbangkan peran. Seperti terbawa arus kesibukan hingga akhirnya jadi mindless instead of mindful. 

Sempat merasa gusar karena hal tertentu, lalu mencoba journaling dan coloring, tapi itu tidak membantu banyak. Malah terasa makin self-centered dan terlalu fokus ke hal yang bikin ga enak. 

Lalu mencoba juga untuk konseling berbayar via phone call. Jawaban psikolog menurutku perfunctory, bilangnya hormonal imbalance, lalu disarankan banyak doa, lakukan solat sunah seperti Tahajud dan Doa, berjemur, olahraga dan kurangi gula serta karbohidrat. Seraya mencontohkan pasien lain yang dia tangani dan katanya berhasil. Dia juga bilang kalo apa yang kuhadapi itu masalah kecil. 
Skip dan ambyarlah sesi tersebut. Saya kembali berenang dan mengapung mindlessly di arus kehidupan. 

Hingga, beberapa hari terakhir, kok merasa mindless sekali dan jadinya bosen. Bolak-balik scroll IG, Twitter dan Netflix. Oleh karena itu, begitu invoice renewal hosting masuk, malah merasa diingatkan bahwa saya masih punya blog loh. Dan memang menulis adalah satu terapi jiwa buat saya.

Jadi yuk, mari rutin lagi menulis! 


Do’akan supaya konsisten 💪💪. 

See you on the next post,