Tiga Hal yang Saya Pikirkan Sebelum Menikah

Marriage is a verb, it is a never ending work. A lifetime adaptation.

Siang tadi, saat break makan siang teman saya mengutarakan kekhawatiran jika sensasi setelah menikah yang dirasakan adalah ‘meh’ feeling,  hal yang biasa diutarakan dengan “segini aja nih?”. Hal tersebut mengingatkan saya bahwa kadang, sebagai perempuan, kita terlalu fokus pada the wedding day, kadang juga kita menempatkan marriage in pedestal that will make us happy just because. Kita kadang lupa bahwa pernikahan dimulai setelah akad.

Saya pernah posting tulisan mengenai hal yang berubah setelah menikah dan ditulis 33 hari setelah kami menikah. Looking back, the first month truly is the honeymoon period jika dibandingkan dengan bulan-bulan setelahnya. Tapi saya masih percaya bahwa pernikahan merupakan adaptasi tanpa henti di usia pernikahan saya yang masih sangat muda ini.

I agree that getting married is not an achievement, but staying in a marriage surely is. Apart from personal bottom line, bertahan dalam suatu pernikahan adalah sesuatu yang ngga bisa kita dapatkan dengan cuma-cuma. There will be tears, fights, jealousy, rage and any other emotion that will not fit a teaspoon (Do you get it potterhead? 😉😉). Bertahan dalam sebuah pernikahan bukan cuma menemukan willing partner tapi juga menekan ego sendiri, belajar menyesuaikan diri dengan partner hidup dan semua kerumitan di dalamnya.

Hal ini membuat saya kembali mengingat hal yang pernah saya pikirkan baik-baik sebelum memutuskan menikah dengan L. Ada tiga hal yang saya cerna dan dipikirkan dalam-dalam, kemudian didiskusikan bersama L; my personal bottom line, willingness in acceptance & detail on life after marriage. 

The personal bottom line

Ini adalah hal pertama yang saya pikirkan sebelum menikah. Hal terburuk apa yang kira-kira akan terjadi setelah menikah hingga saya tidak mau menerima itu? Bagi saya, ada dua hal; physical abuse dan side affair. I remember when I said to L that the moment he laid his hands on me or having any affair (sexual, via text, etc etc), the next moment I will be walking out of the marriage.

Buat saya ini penting untuk didiskusikan. Seenggaknya if it happens he already know the consequences. Saya percaya bahwa tindakan abusif atau selingkuh adalah concious decision bukan tindakan spontan atau khilaf semata.

Beberapa mungkin mengernyitkan kening dan bertanya ‘terus lo ngapain nikah ma dia kalo lo ga yakin dia ga akan melakukan 2 hal itu ke lo?’ Buat saya, soal ini bukan tentang yakin ke dia atau ngga. This is the precaution because human are fluid. Kita ini makhluk fleksibel yang bisa berubah, dan dua perubahan ini adalah hal yang tidak bisa saya tolerir. Lagian waras aja lah, siapa sih yang udah niat mau abuse ato selingkuh saat baru mau nikah?

Please note juga L does not have physical abuse tendencies nor the affair. Jadi anggap saja ini my pessimist sides that also act as precaution.

Acceptance

The moment you say I do atau the moment kamu tersenyum sambil mengangguk pas lamaran berarti kamu sudah siap untuk menerima si partner hidup apa adanya dia. Saat saya bilang ‘ok, let’s get married’ itu artinya saya sudah menetapkan hati dan siap menerima konsekuensi atas bagaimana perilaku dia dan juga dia di saat momen terburuknya (minus 2 kondisi yang tadi saya sebutkan).

There is nothing like perfect imperfections atau even when I lose I’m winning kayak lagu All Of Me si John Legend, karena tetep aja si imperfection yang awalnya kita anggap lucu akan jadi memuakkan pada waktunya dan tetep aja kalo kalah mah nyesek 😂😂.

Selain itu poin lainnya adalah meski manusia adalah makhluk yang banyak perubahan tapi perubahan itu ngga instan atau sesuai dengan yang kita inginkan. Kemarin saya ngga sengaja baca ke chat chat lama saya dengan L dan menemukan bahwa hal yang kami ributkan sekarang dan dulu pada intinya sama aja. We’re not changing that much actually.

Poin acceptance sama personal bottom line ini kek berseberangan banget ya? Tapi apalah hidup tanpa kontradiksi kan?

Seriously, we need to balance these two aspects karena penerimaan tanpa batas akan membuat kita ditindas dan bottom line yang terlalu banyak itu akan membuat kita terlalu menuntut.

Life after Marriage

Poin ini juga penting untuk didiskusikan. Bisa jadi semacam poin remeh temeh soal siapa yang berkewajiban doing household chores atau keputusan-keputusan besar setelah menikah seperti kapan punya anak.

Saya dan L mendiskusikan beberapa kondisi, ada yang non negotiable dan juga negotiable. Waktu itu saya membicarakan keinginan saya untuk tetap bekerja, kesempatan melanjutkan pendidikan, hingga ketidakinginan saya untuk menjadi breadwiener meski saya berpenghasilan. L pun mendiskusikan tempat tinggal setelah menikah yang saya amini dengan beberapa kondisi dan prasyarat jika saya ingin tetap bekerja setelah punya anak.
Rasa-rasanya L tidak membicarakan other things than those two. Entah karena buat dia hanya dua itu yang penting atau memang yang lainnya belum terpikir. Diskusi-diskusi ini tentunya tidak hanya dilakukan sebelum menikah tapi juga sampai sekarang, dari mulai hal remeh seperti ‘ini popok buat baby F pake yang mana ya?’ hingga pembicaraan mengenai investasi masa depan.

See? Marriage is a work. Diskusi tanpa henti, penerimaan dan penekanan ego pribadi hingga adaptasi tak berujung. Sensasi menikah itu seperti minum caramel macchiato. Manis-manis pait. Ato pait-pait manis?

Bagaimana dengan proses pemikiranmu sebelum menikah? Please share your thoughts.

Love,
G

You may also like

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.